fbpx
Kita Masuk Madzhab Yang Mana, Optimism Atau Positivity?

Kita Masuk Madzhab Yang Mana, Optimism Atau Positivity?

Spread the love

KITA MASUK MADZHAB YANG MANA, OPTIMISM ATAU POSITIVITY?

Kali ini saya akan share tentang beda antara Madzhab OPTIMISM and POSITIVITY. Dua hal yang nampak sama, tapi sama sekali berbeda

Menurut penulis kenamaan Simon Sinek, pemahaman yang salah terhadap dua hal ini akan berdampak pada action yang kita ambil nantinya

Apa yang membedakan kedua kata tersebut “ACCEPTANCE” atau penerimaan keadaan. Optimisme itu adalah sebuah keyakinan akan masa depan yang lebih baik

Artinya ia menerima dan mengakui jika situasi yang sekarang berbeda dari yang kita harapkan. Berpikir optimis artinya, jika saya memberikan respon dengan melakukan action yang berbeda pada situasi yang sekarang, maka hasilnya akan lebih baik

Intinya disini ada respon yang berbeda terhadap situasi yang berjalan tidak semestinya

Lain OPTIMISM lain pula POSITIVITY

Kalau positivity itu sikap selalu berpikir positif tanpa mau tahu situasi dan kondisinya seperti apa. Pokoknya berpikir positif aja, semua baik-baik saja

Tidak ada “acceptance” atau penerimaan terhadap situasi saat ini. Karena ia masih berpikiran segala sesuatu masih berjalan seperti biasa, karena ia sendiri tutup mata

Bahkan berpikir kalau orang-orang yang share berita-berita kewaspadaan terhadap berita crisis sebagai orang yang paranoid. Bagi pebisnis, sikap perbedaan mental optimisme dan positivity ini berdampak sangat signifikan bagi pebisnis

Pebisnis yang optimis akan sepenuhnya sadar dan menerima bahwa situasi yang mereka hadapi sekarang berbeda

Bagi mereka yang bidang bisnisnya berada di “Green Zone” atau diuntungkan dengan situasi seperti ini, akan fokus meningkatkan produktivitas, menambah kapasitas produksi sambil menekan cost sebagai respon terhadap demand tang melonjak secara eksponensial

Bagi pebisnis yang berada di “Red Zone” dimana produknya tidak menjadi prioritas di market akan merespon dengan hal yang berbeda pula, namun tetap terencana dan terukur

Mereka bisa bergeser sementara ke “Green Zone” dengan ikut produksi, atau menjadi bagian di rantai distribusinya, mempertemukan demand dengan supply

Yang bermasalah adalah ketika pebisnis penganut fanatik madzhab positivity. Tidak sadar dan tidak mau tahu kalau bisnisnya sedang berada di zona merah dan terus memaksakan “push the product to the market”

Meskipun sedang tidak cocok antara prioritas kebutuhan pasar dengan produk yang mereka tawarkan. Ketika mereka omset menurun, daya serap pasar melemah, mereka malah gelontorkan budget promosi, diskon besar-besaran

Bukan untung yang akan didapat malah marketing cost yang akan makin membengkak. Yang tidak bisa dipahami adalah mereka yang sama sekali tidak mau tahu dengan kondisi sekarang

Hanya modal berpikir positif tidak ada action apa-apa. Sambil terus berharap semua akan membaik dengan sendirinya. Pola pikir kita akan mempengaruhi response kita terhadap situasi krisis seperti ini

Optimisme YES
Positivity NO

Salam Nginbound
Sam Ipoel

bit.ly/inbound_strategy

Source: KLIK DISINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *