fbpx
Kreatifitas Bisnis Property Di Era Dana Kering

Kreatifitas Bisnis Property Di Era Dana Kering

Spread the love

Oleh Mardigu Wowiek

KREATIFITAS BISNIS PROPERTY DI ERA DANA KERING DAN MEMBACA PERILAKU MILENIAL

Ada beberapa alasan mengapa dunia bisnis property mati suri dalam 4 tahun ini. Kita bicara dari pemain property kelas atas A, kelas menengah C dan sekondari house, bukan kelas BTN yang rumahnya kelas C. kelas A dan B hampir 80% jalan ditempat.

Dalam dunia property, pembelinya 80% menggunakan uang bank. Dan bank tidak banyak buka keran kredit 4 tahun ini karena lesunya kemampuan bayar dari sang pengambil kredit terus menurun datanya. Sekali lagi untuk kelas A dan B yang paling berpengaruh.

Program pemerintah di infrastruktur yang menghabiskan dana keuangan banyak bank ini juga penyebab lesunya bisnis property. Lesu ini bukan berarti tidak ada jualan, tetapi lama jualan atau nilai transakasi berkisar 20% atau turunj hingga 1/5 di banding masa sukses dunia property.

Alasan kedua yang mematikan dunia kreatifitas bisnis property baik perumahan atau perkantoran adalah kaum milenial.

Seperti kata guru marketing mas Yuswo Hady mengatakan bahwa Baby Boomers dan Gen-X cenderung membentuk keluarga kecil. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial) cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesama saudara. Jadi, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size properti cenderung mandek.

Tak hanya itu, tempat kerja pun secara perlahan “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah: tiga bulan di Ubud, empat bulan di Raja Ampat, tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya: workcation (kerja sambil liburan).

Pasar properti beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish” biasa yang nanti akan naik dengan sendirinya tetapi jangan-jangan bearish terus sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang.

Biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Seperti perilaku milenial kemungkinannya: Milenial mulai menunda nikah, menunda punya rumah, dan menunda punya anak. Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial mendorong mereka memilih rumah ukuran mini.

Dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X sebentar lagi tidak di lirik milenial untuk bekerja di sana. Kantor tidak lagi di gedung-gedung yang mahal.

Gedung kantor bertingkat dengan jam kerja kaku akan banyak di tinggal milenial. Milenial ini masuk ke pasar kerja secara massif dalam 2-3 tahun kedepan ini dan dunia property harus mulai berstrategi lebih cerdik lagi.

Bagaimana sudah paham kan kenapa KREATIFITAS BISNIS PROPERTY DI ERA DANA KERING DAN MEMBACA PERILAKU MILENIAL itu penting

Source: KLIK DISINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *