fbpx
Membaca Rasa Hati Saudara Kita

Membaca Rasa Hati Saudara Kita

MEMBACA RASA HATI SAUDARA KITA

Seorang teman pengusaha curhat panjang. Via voice note. Sambil terisak-isak. Gak kuat. Harus ambil keputusan berat. Belasan tahun operasi bisnis harus di stop.

Telaah pada putaran cash cukup berat. Hutang dagang gak kebayar. Inventory gak berputar. Pria ini harus tegar walau isak sedihnya gak bisa dia sembunyikan.

Saya faham dia baik. Baru saja rasanya beberapa bulan yang lalu saya hadir di usahanya. Wajah optimis. Puluhan orang semangat. Dan semua harus berakhir dengan PHK massal tanpa pesangon. Berat memang. Produknya tersier.

Ini sebab saya berhenti jadi konsultan bisnis. Hari-hari saya cukup larut dalam sedih. Jadi mikirin usaha teman saya. Larut. Kadang diam sendiri. Seperti melamun panjang. Saya baperan kalo sudah begini. Ikut kepikiran panjang.

Apa rasanya tiba-tiba gak ada kerjaan.
Apa rasanya tiba-tiba gak gajian.
Apa rasanya tiba-tiba harus hidup berwirausaha.

Padahal belasan tahun otot tubuh sudah diabdikan bekerja pada sistem yang ajeg dan stabil. Sulit pivot kalo belasan tahun sudah kaku sebagai pekerja.

Saya jujur gak habis fikir. Bagaimana makan anak dan istrinya, bayaran sekolah, beli kebutuhan hidup, bayar listrik.

Negeri ini bukan Kanada yang bisa transfer 2.000 dollar Canada ke rekening warganya. Atau seperti Jepang yang transfer 100 ribu yen langsung ke penduduk. Penduduk negeri ini sudah lama yatim piatu. Harus hidup sendiri.

*****

Penerbangan domestik ditutup. Entah bener atau nggak. Masih simpang siur. Ada sahabat masih bisa take off Malang ke Jakarta.

Maka ground handling landasan kehilangan pesawat yang biasa parkir, lalu crew check in off, abang troli gak ada job, supir taksi bandara puasa, outlet jualan di bandara off, pemasukan angkasa pura off, moda transportasi off, pedagang asongan terminal dan titik-titik hubung juga off.

Pariwisata jelas stop. Tempat yang biasa ramai kunjungan jelas stop. Bisnis event-MICE pelatihan dan sejenisnya jelas stop. Mall dan pusat keramaian jelas stop.

Supplier toko wisata jelas terpukul, pemandu wisata terpukul, karyawan karyawati juga off, putaran sektor wisata yang jadi harapan dampak ekonomi langsung ke arus bawah terhantam.

Maka turunan pekerja yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan itu jelas gak ada yang bisa nge gaji. Dari mana gajinya jika omset gak ada?

Pengusaha bukan Yayasan yang punya dana gratis yang siap dibagi-bagi.

Pemerintah larang PHK tapi pengusaha harus bayar gaji pakai apa?

Maka akan ada jutaan orang hari ini, detik ini, malam ini, yang sedang kosong pandangannya. Bingung. Gak tau lagi harus gimana.

Seorang istri yang menggendong kelaparan, karena gak ada susu. Kedinginan. Belum makan. Ibu menyusui pun ASI nya juga kosong. Gak ada supan makan untuk sang ibu. Berat.

Seorang ibu yang berdebar menatap angka pulsa di meteran pra bayar. Yang sulit untuk kembali diisi ulang KWH nya. Mengancam gelap rumahnya.

Seorang suami yang harga dirinya runtuh, perasaannya hancur, kehabisan cash, sementara istri dan anaknya merengek butuh asupan hidup.

Hari ini, itu terjadi, walau kita gak mendengar dengan jelas. Tapi sudah terjadi.

Seseorang di PHK, itu bukan 1 jiwa. Itu pukulan bagi 4 jiwa yang hidup atasnya. Anak-anak, pasangan hidup, orang tua.

Keras. Pedih. Sakit.

*****

Namanya manusia ya harus makan. Itu dorongan biologis paling mendasar.

Puasa pun ya harus buka. Ada sahurnya. Gak bisa puasa terus berhari-hari.

Jika seseorang di PHK, mungkin bisa ke keluarganya yang masih punya uang. Lalu bagaimana jika keluarganya juga di PHK.

PHK kali ini bukan kejadian satu dua orang, tapi kejadian langsung satu kampung.

PHK di pramuniaga pusat perbelanjaan.
PHK di pabrik yang tidak lagi berproduksi.
PHK di restoran yang sudah kehilangan pembeli.
PHK di outlet-outlet UMKM pinggiran yang kehilangan traffic.

Lalu bagaimana jika mereka sudah gak ngerti lagi cara cari makan yang halal?

*****

Pertama kegelisahan,
Lalu kebingungan,
Meningkat menjadi kegusaran,
Lalu masuk pada tekanan,
Hingga berujung pada kemarahan,

Dan bayangkan jika ada jutaan orang lapar dan marah.

Marah atas ketidakpedulian sesama.
Marah atas rasa ketidak adilan yang mendera.
Marah atas kelaparan yang seharusnya tidak terjadi.

Sebelum kemarahan ini menjadi kolektif dan tidak bisa kita perbaiki lagi, alangkah baiknya kita semua mulai peduli ke sesama.

Saudaraku yang masih ada cash, masih bisa bikin dapur umum, masih bisa ngasih makan gratis, mari jaga perut sesama.

Minimal saudara kita bisa makan.
Minimal saudara kita gak kelaparan.
Minimal saudara kita ngerti kalo mau kenyang harus kemana.

Mari membaca rasa. Rasa yang ada di hati saudara kita.

URS – Tetaplah Kuat Bangsaku

Source KLIK DISINI

Bagaimana, apakah artikel tentang Membaca Rasa Hati Saudara Kita diatas menggugah Anda untuk melakukan sesuatu?,, silakan share kesebanyak mungkin orang, semoga bermanfaat….

Mengertilah, Semua Ada Harganya

Mengertilah, Semua Ada Harganya

MENGERTILAH SEMUA ADA HARGANYA

Kita harus ngerti, bahwa kebanyakan rumah sakit rujukan Covid19 adalah rumah sakit pemerintah. Karena rumah sakit pemerintah itu dibawah kendali negara. Bisa paksa organisasi layani pasien Covid19.

Rumah sakit swasta ada yang layani Covid19 setahu saya. Tapi ya ada harganya. Dan beberapa rumah sakit swasta milih aman gak merawat Covid19, karena khawatir pasien non Covid19 gak mau dateng.

Akhirnya rumah sakit kehilangan revenue, padahal bangun rumah sakitnya pake hutang bank. Perlu dijaga arus pemasukannya, agar terus bisa bayar cicilan.

Kembali ke rumah sakit pemerintah.

Mengertilah semua ada harganya.

Karena milik pemerintah, maka dana operasionalnya pun memakai logika pengeluaran uang pemerintah. Kalo gak ada posnya, uang gak bisa keluar.

Ada rumah sakit yang nanggung makan tenaganya, tapi ada juga yang nggak. Udah include di gaji.

Dan kenyataan harus pakai APD disaat tugas akan memakan waktu pasang dan lepas. Akhirnya waktu makan jalan ke kantin atau tempat makan jadi berkurang.

Inilah mengapa Berkah Box di masa wabah ini menyasar tenaga kerja kesehatan. Karena dengan langsung di supply nasi box ke meja-meja kerja sahabat nakes, mereka bisa menghemat waktu makan dan menghemat banyak proses.

Jangan tuntut lagi rumah sakit pemerintahan menyediakan nasi box. Tolong jangan. Beberapa tagihan ke BPJS saja belum cair. Rumah sakit kekurangan kas operasional. Jangan lagi menuntut, saatnya kita bergerak saja.

Hari ini dapat berita supir ambulance kelaparan. Nabrak pagar. Ini tragis. Pejuang di garis depan, tidak terperhatikan.

Maka kami mengajak sahabat-sahabat untuk ambil perhatian pada nakes yang ada.

Jika ada kemampuan untuk menyediakan sendiri, silakan langsung bergerak membantu.

Jika ingin menitipkan bantuannya ke Berkah Box, insyaAllah Dapur 2 Balikpapan merencanakan distribusi kurang lebih 750 nasi box khusus ke tenaga kerja kesehatan. Setiap hari, senin sd jumat.

Cukup 10 ribu rupiah per box. Dan kelipatannya.

Semoga berita sederhana ini menyalakan nurani kita.

Ditengah kesulitan yang mendera, jangan sampai kehilangan intensi untuk bantu orang lain.

Source KLIK DISINI

URS – Berkah Box
Donasi WA KLIK DISINI

Canada vs Indonesia, Rakyat Dapat Apa?

Canada vs Indonesia, Rakyat Dapat Apa?

Indonesia vs Canada

Postingan tweet ini saya temukan di lini masa. Canada ngasih benefit ke warganya atas Covid yang melanda.

Senin ngisi form, rabu cair. 2000 Dollar Canada. Kisaran 22 juta rupiah. Dalam 4 bulan kedepan. Bakal dapat setiap bulan. Ajib.

Detailnya nanti cari tahu sendiri. Ini untuk semua warga, atau untuk segmen tertentu. Tapi ini nyata banget.

Dalam sub komen postingan tweet ini, beberapa netizen +62 membandingkan dengan negerinya. Intinya mereka putus harapan.

“Itu Kanada, ya elah Indonesia, bisa idup juga syukur.”

“Ya gak usah banding-bandingin sama negara maju, gak usah ngimpi.”

“Canda brow.. Jauh…”

Dan berbagai komen pesimis lainnya.

Walaupun konon sebentar lagi web pra kerja negeri ini mau ngasih dana ke masing-masing rekening anak negerinya. wallahu’alam

*****

Malam ini saya iseng buka data Kanada. Memang negaranya luas. Daratannya 9.9 juta km persegi. Sementara kita Indonesia 1.1 juta km per segi.

Tapi konon Kanada di bagian utara Amerika itu dingin banget. Andai banyak sumber daya alam pun, gak sebanyak Indonesia. Coba aja cek negeri ini. Dalemnya, permukaannya. Jadi duit semua.

Tentang kepadatan juga kita lebih padat. 138 manusia per km persegi. Kanada hanya 3.92 km persegi. Kanada lebih lengang. Populasinya 35 juta. Sementara kita on going ke 300 juta.

Namun PDB Kanada dengan Indonesia terpaut tipis.

Kanada di 1.529 T USD (2016)
Itu data di print screen wikipedia

Dan di 2019 Kanada sudah di 1.712 T USD
Sedangkan Indonesia di 1.100 T USD

Kanada memiliki besaran Ekonomi nomor 10 sementara kita nomor 16. Makanya kita masuk G20. Deket kan?

Tapi begitu ke pendapatan perkapita, dimana kekuatan ekonomi sebesar itu dibagi ke seluruh jumlah penduduk.

Kanada berada di 45.447 USD perkapita
Sementara itu,
Indonesia berada di 4.120 USD perkapita

Kesejahteraan per penduduk di Kanada berada urutan ke 15 dunia.

Sementara kesejahteraan per penduduk di Indonesia berada pada urutan ke 106.

He he he…

Secara besaran ekonomi kita dekat…

Tetapi begitu dihitung dari porsi untuk tiap penduduk, kita berantakan, ranking 106.

Kenapa?

Karena bilangan pembagi penduduk Kanada hanya 35 juta orang..

Sementara bilangan pembagi penduduk kita itu di 271 juta orang.

Canada vs Indonesia

*****

Jalan keluar….

Melihat data yang begitu gamblangnya, sebenarnya negeri ini tinggal masuk pada proses rekayasa ekonomi.

Kita jangan nyerah gitu aja. InsyaAllah anak bangsa ini banyak yang pinter-pinter dan ahli-ahli. Tinggal dikumpulin, dipimpin, dan diberi tempat. Selesai.

Besaran kita 1.100 T USD. Itu nilai produksi gross negara. Selama 1 tahun.

Kalo mau ngejar ke pendapatan perkapita 45.000 kayak Kanada, berarti mesti lompat 10x

yaudah, tinggal kalikan 10 aja itu 1.100 T USD.

Kita butuh 11.000 T USD produktifitas ekonomi dalam negeri.

Ada sekian banyak sumber daya alam.
Ada 200 juta generasi produktif
Ada segala macam sumber daya.

Tinggal kita mau bergerak bersama atau nggak?

Wabah ini akan membuat masing-masing negara mempertebal sekat. Saatnya kita perkuat kekuatan produksi ekonomi dalam negeri.

Bisa. Sangat bisa.

Yang ngomong gak bisa biasanya kebanyakan makan kuliah formal pertumbuhan ekonomi, jadi melihat angka tumbuh 1.000% atau 10x jadi takut.

Berlindung di pertumbuhan 4-6% per tahun. Ya elah.

Arahnya udah jelas.

Kayak perusahaan kan.

Kalo mau naikkan produktifitas, benerin manajemen.

Komisaris sebagai pemilik perusahaan harus sikat top manajemen yang maling-maling. BOD bersihkan dari penjahat.

Kalo BOD nya udah bener. Benerin SDM di struktur perusahaan. Didik. Yang gak bisa di didik, di disposisi, carikan pos yang dia bisa produktif. Kalo gak bisa juga, pecat.

Tim pembelian dicek. Yang makan gratifikasi atau cashback hajar. Eksekusi. Pecat.

Canada vs Indonesia

Tim produksi dipacu. Pake sumber dana yang ada. Debt ditahan, atau bayar sekalian. Cost dihemat. Kerja efisien.

Tim sales yang kejar revenue pacu. Kalo di negara revenue dari pajak dan non pajak.

Sikat pajak ke kelas ekonomi atas. Besarkan arus pemasukan non pajak. Re negosiasi pengelolaan sumber daya alam yang berat sebelah.

Di perusahaan, biasanya jadi gak produktif ketika sentra kekuasaan terlalu banyak. Bias. Banyak raja kecil. Semua direktur seakan punya faksi masing-masing. Program dibawah gak selesai.

Kalo komisaris selaku owner perusahaan melihat begini, harusnya putuskan kekuatan komando secara bulat. Jangan banyak bias kekuatan.

Komisaris pilih yang bener. Top manajemen perusahaan gak boleh terlalu banyak kepentingan. Terlalu banyak faksi. nanti sibuk gak kerja-kerja. Kelahi aja. Saling nyari panggung, saling jegal program.

Nah…

Negara ini…

Milik rakyat…

Komisarisnya ya kita ini…

*****

Jadi… Kalo negara ini mau kuat, naik sejahtera, …

Tergantung komisaris aja.. Tergantung kita..

Mau apa nggak…

Kalo saya optimis bisa…

asal dikerjain dari sekarang…

Mau ikutan?

URS – on the way

Source KLIK DISINI

Canada vs Indonesia

Bebas Duplikasi Nasi Berkah Box

Bebas Duplikasi Nasi Berkah Box

BEBAS DUPLIKASI NASI BERKAH BOX

Hari ini sabtu. Bukan harinya membagi berkah box. Namun kami distribusikan sekitar 100 nasi box. Diluar donasi berkah box. Pribadi saja.

Ada titik kumpul supir angkot di Balikpapan. Orang sini menyebutnya taksi.

Kami membagi nasi cukup sore, kami berharap akan dibawa pulang untuk makan malam.

Ternyata kami lihat langsung dimakan. Curi dengar dari sahabat supir angkot, sudah dari pagi gak makan.

“Pagi tadi cuma makan roti gepeng, sama teh gelas”

Roti gepeng. 800 rupiah. Nampak sedikit terigu, namun kaya pengembang. Ditambah teh gelas. Konon 1.200. Total 2.000 rupiah. Budget Makan pagi.

Seharian nongkrong nunggu penumpang, kalo ada, buat beli mie, campur roti gepeng, makan berlima di rumah. Ada keluarga yang nunggu.

Itulah fakta yang kami temukan hari ini. Kami punya video dimana sahabat ini berlarian ngejar mobil kami. Sampai bergerombol ambil nasi box. Gak kami tampilkan, takut tidak mencontohkan social distancing. Mau gimana lagi.

Masih terbayang-bayang malam ini, banyak orang yang terkena dampak wabah, terutama di sisi ekonomi. Sangatlah berat. Padahal tidak lockdown. Tapi semua orang pilih diam di rumah.

*****

Sahabat, senin besok Berkah Box insyaAllah mendistribusikan 1.950 box per hari. Dari senin sd jumat. 9.750 nasi box per pekan.

Kami dalam posisi yang ingin berteriak sekencang-kencangnya, tiru saja gerakan kami, bedakan namanya, agar lentur dan teman-teman bisa bergerak independen.

Yang punya warung kuliner gak jalan, pasti ada dapurnya kan? Jadikan saja organ sociopreneur. Bangun tim. Ada tim fund raising donasi, ada tim produksi, ada tim distribusi.

Yang punya dapur rumah tangga, kalo sekiranya kuat 100-300 nasi box per hari. Buat saja yang sama dengan Berkah Box.

Modal bikin gerakan ini hanya HP, data, alat masak. Sudah.

Gak ada fotografer profesional, gak ada designer poster penuh warna, gak ada platform web canggih, kami numpang di amalsholeh dot com.

Kami terima donatur manual via WA. Bikin grup WA donatur. Ngobrol sama donatur.

Lakukan saja persis. 10 ribu per box. Lakukan senin sd jumat.

Jika yang seperti Berkah Box ada 1000 gerakan saja, berarti sudah 2 juta nasi box. Tolong ditiru aja.

*****

Kami ngerti hambatan perasaannya. Terutama saya yang ngawalin fund raise. Pasti ada beban di hati jadi dikira minta-minta.

Gak usah minta-minta. Cerita aja. Ceritakan di FB. Pake tulisan alami aja. Apa yang ada di kepala, ya ditulis.

Letakkan nomor HP Admin WA, lalu siapkan nomor rekening penampungan. Laporkan berkala. Realisasikan amanah.

Sabar, mau 10 nasi box per hari, tapi jalani terus. Saya tahu pastilah bosen.

Jangan berat mikit untungnya ada apa nggak. Sisihkan wajar aja untuk operasional. Yang wajar. Agar kedepan bisa punya karyawan dedicated. Dan untuk penambahan alat dapur.

Tidak perlu risau dikira minta-minta. Kita tidak menjapri temen satu-satu. Cerita aja.

Gak usah juga baper kalo temen-temen terdekat malah gak ikutan donasi. Wajar aja. Kan tahu kurang-kurangnya kita. Males kali mereka. Ya gak papa.

Tapi nantinya secara perlahan, pasti ada orang baik yang dukung. Sabar aja. Nanti pelan-pelan ada yang donasi terus menerus. Sabar aja.

Yang penting konsisten. Jangan berhenti. Jalan terus.

*****

Yang lapar banyak.
Yang gak bisa makan banyak.

Kami gak bisa sendirian. Kemampuannya hanya segini. Kalo temen-temen juga gerak di masing-masing wilayahnya, insyaAllah kasih sayang Allah turun ke bumi nusantara.

Pastilah Allah azza wa jalla kasih fadhilah bagi yang menggerakkan kebaikan.

Terus sangka baik. Jangan hitung-hitungan rupiah, bisa jadi gak ada sisa sama sekali, habis untuk operasional. Gak papa. Sabar.

Banyak yang lapar…
Banyak yang gak bisa makan…

Tolong bergerak…

URS – Berkah Box
Donasi WA KESINI << klik aja

Source KLIK DISINI

Belum Makan Nasi Bu, Dari Pagi – Berkah Box

Belum Makan Nasi Bu, Dari Pagi – Berkah Box

Belum Makan Nasi Bu, Dari Pagi…. – Berkah Box

Ada kuota lebih dari Nasi Berkah Box chapter Balikpapan. Akhirnya kami bagikan di titik-titik kumpul ojeg dan sahabat di jalan.

Sedetik tim kami turun bagikan nasi, seorang bapak langsung panggil teman-temannya,

“Woi, nasi woi, sini…”

Alhamdulillah yang diseberang jalan berlarian. Walau cukup bergumul, tapi tidak sampai ada perkelahian. Alhamdulillah.

Sepintas mereka ucapkan terima kasih, lalu menyampaikan ke kami,

“Belum makan Nasi bu, dari pagi… sepi…”Berkah Box

Para tukang ojeg ini menunggu di terminal. Biasanya ada trayek bus Balikpapan-Samarinda. Berhenti di terminal bus Batu Ampar Balikpapan.

Trayek bus sudah sangat sepi arusnya. Entah apa yang bapak-bapak ini tunggu. Mereka gak bisa langsung Pivot seperti kita yang langsung pakai teknologi untuk tetap bertahan hidup.

Jualan pake online, antar pake go send, seminar pake zoom. Bapak-bapak ini gak bisa.

Dahulu ada putaran uang kecil,

Memanggul barang dari penumpang, ada tips. Ekonomi berputar.

Ada penumpang turun naik bus, jual minuman asongan sama kacang, ada pemasukan.

Masih ada arus manusia bolak balik yang bawa uang, belanja ke orang kecil, memutar ekonomi orang kecil.

Dan sekarang semuanya : HILANG.

Krisis moneter jarang menyentuh rakyat bawah. Rakyat bawah masih bisa makan. Urusan dollar naik, orang kecil gak gitu risau. Masih bisa makan.

Hari ini jalanan kosong. Mall kosong. PHK terjadi dimana-dimana. Tidak di lockdown paksa saja, orang yang punya uang memilih melockdown diri. Alamiah.

Nampak di lapangan pukulan wabah ini sangat keras. Padahal ini bukan Jabodetabek. Bukan. Apalagi disana. Entah seperti apa rasanya.

Yang tadi dibagi hanya nasi box. Gak juga mewah. Tapi begitu berharganya. Berbinar-binarnya bapak-bapak ini bawa nasi berkah box.

Ada yang kami gak bisa lupa, seorang bapak ijin,

“anak ku sama istri ku belum makan ini, aku ijin ambil 2 lagi ya bu…”

Hening…

URS – Manajemen Berkah Box
Donasi sila WA KLIK DISINI

Source KLIK DISINI

Belum Makan Nasi Berkah Box