fbpx
Kamar Me Time

Kamar Me Time

KAMAR “ME TIME”

Oleh Mardigu Wowiek

Dapat ide selagi balik ke kampung di kudus. Ceritanya kalau saya lagi pengen “me time” saya biasanya balik ke desa kecil di kaki gunung muria bernama desa colo. Minggu kemarin saya kesana kamar yang biasa saya tidur di pakai ayah mertua kakak saya, ya saya melipir ke tempat yang lebih ujung. Ngak enak ngak ada pemandangan.

Lalu saya bilang ke kakak, kang mas, itu pojokan kiri tak bikin kamar ngih. Saya menunjuk lahan sisi kiri dari bangunan utama rumah kakak saya untuk saya jadikan kamar.

Saya selalu mengeluhkan bahwa dari tempat saya biasanya bisa menatap gunung muria sekarang pohon tinggi menghalangi ya saya mau geser agar gung terlihat. Dan kakak saya ngih ngih aja. Lahan keluarga kami lumayan besar sehingga banyak sudut yang bisa di manfaatkan.

Pulang ke Jakarta lewat semarang kita pasti melewati tumpukan kontener. Lalu saya kepikir karena tahu ekonomi sedang landai maka banyak kontener bekas di jual. Jual murah pastinya.

Kamar Me Time

Bagi saya, melihat kontener menumpuk timbul ide dan mulai buka-buka mbah google cari contoh. Sebagaimana kita tahu, besi tulangan kontener itu kuat karena kalau lagi melakukan distribusi bisa di tumpuk 10 tingkat. Dengan mutu besi yang bagus atau bahasa bisnisnya “sea worthy” maka memakai tulangan container sebagai struktur dasar bangunan ternyata sangat bagus.

Saya langsung telpon sana sini teman saya pengusaha container dan dapat lah harga, 23 juta di tempat. Alias kita harus ambil sendiri dan bawa ke lokasi kita maui. Semarang kudus, 3 truk, 40 footer container, plus portable crane langsung ada harga, 20 juta untuk 6 unit.

Lalu arsitek favorit saya Muad Arc saya suruh design dan langsung kerjakan pondasi, untuk container akhir bulan januari terpasang.

6 unit kontener di tambah ongkos kirim dan pasang, di tambah biaya pondasi, di tambah interior, alhamdulilah lumayan murah buat kamar saya me time. Ada yang mau nyambangi kalau sudah jadi? April 2019 kira-kira.

Source KLIK DISINI

Puasa Politik Sebagai Usaha Pemersatu Bangsa

Puasa Politik Sebagai Usaha Pemersatu Bangsa

Puasa Politik Sebagai Usaha Pemersatu Bangsa. Sekarang Politik Membelah Dua Bangsa

Oleh Mardigu Wowiek

Sejak ada calon nomor satu dan nomor 2 di pilpres maka saya mengurangi tulisan dan komentar yang berbau perpolitikan. Balik maning nang laptop, urusan bisnis.

Bingung membaca saling serang di media, ada yang bilang 8 juta isi monas diluas lahan 100 ha, ada yang komen wukuf di arafah yang 500 ha saja hanya 4 juta!!

Saya ngak tahu mana yang benar. Yang jelas yang hadir di monas itu seru dan syahdu. Yang jelas damai. Wis ngono wae kok repot.

Bisa ngak kita ini stop saling ejek. Mulainya bagaimana? Bagaimana kalau kita usul untuk pemerintah dan incumbent stop propaganda keberhasilan, bagi bagi sertifkat, dan lain sebagainya di semua media sebentar saja, selama 3 bulan kedepan ini deh. Usual juga penantang stop berpropaganda. Kampanye turun kelapangan tanpa komentar.

Juga media, bagaimana kalau isinya semua netral pada media mainstream. Hal seperti itu bisa gak ya?,Puasa Politik Sebagai Usaha Pemersatu Bangsa

Atau bagaimana berita politik dan diskusi politik hilang dari semua media mainstream terutama TV selama 3 bulan kedepan.

Saya rasa sampai medsos pun bisa hening tidak komentar politik. Bener deh, ini menurut saya sih, tidak semua masalah bisa di selesaikan MELALUI POLITIK. Tidak semua masalah harus di selesaikan dengan JABATAN DI PEMERINTAHAN.

Yang kasih makan setiap hari ke mulut anak-anak kita ya diri kita sendiri, yang bayar listrik setiap akhir bulan ya kita sendiri, yang bayar biaya transport, biasa kesehatan, terbanyak ya kita sendiri. Memang kalau jokowi lagi pendapatan kita tahun depan naik 10 kali lipat? Memang kalau prabowo jadi, pendapatan kita naik 10 kali lipat?

Memang kalau prabowo jadi presiden maka khilafah jadi dasar negara? Ya ngak juga. Memang kalau jokowi lagi jadi presiden pancasila garansi bubar? Ya ngak juga.

Semua itu RELATIF. Semua itu bisa berubah demi kepentingan berkuasa karena memang semua itu politik. Politik selalu berpihak pada kepentingan KEMENANGAN walau sesaat.

Inilah yang membuat saya sesaat jadi alergi politik untuk saat ini. Sementara saya tidak mendukung dulu dan tidak berpolitik. Oiya, tidak mendukung itu bukan berarti saya tidak memilih loh ya J . Di kotak suara saya memilih!!!.

Akhirul kalam, Selamat berpuasa komentar politik, tak lupa kami ucapkan terima kasih banyak kepada para politikus, para pendukung fanatik dan media massa karena anda berhasil membelah dua bangsa ini.

Source KLIK DISINI

Kreatifitas Bisnis Property Di Era Dana Kering

Kreatifitas Bisnis Property Di Era Dana Kering

Oleh Mardigu Wowiek

KREATIFITAS BISNIS PROPERTY DI ERA DANA KERING DAN MEMBACA PERILAKU MILENIAL

Ada beberapa alasan mengapa dunia bisnis property mati suri dalam 4 tahun ini. Kita bicara dari pemain property kelas atas A, kelas menengah C dan sekondari house, bukan kelas BTN yang rumahnya kelas C. kelas A dan B hampir 80% jalan ditempat.

Dalam dunia property, pembelinya 80% menggunakan uang bank. Dan bank tidak banyak buka keran kredit 4 tahun ini karena lesunya kemampuan bayar dari sang pengambil kredit terus menurun datanya. Sekali lagi untuk kelas A dan B yang paling berpengaruh.

Program pemerintah di infrastruktur yang menghabiskan dana keuangan banyak bank ini juga penyebab lesunya bisnis property. Lesu ini bukan berarti tidak ada jualan, tetapi lama jualan atau nilai transakasi berkisar 20% atau turunj hingga 1/5 di banding masa sukses dunia property.

Alasan kedua yang mematikan dunia kreatifitas bisnis property baik perumahan atau perkantoran adalah kaum milenial.

Seperti kata guru marketing mas Yuswo Hady mengatakan bahwa Baby Boomers dan Gen-X cenderung membentuk keluarga kecil. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial) cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesama saudara. Jadi, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size properti cenderung mandek.

Tak hanya itu, tempat kerja pun secara perlahan “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah: tiga bulan di Ubud, empat bulan di Raja Ampat, tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya: workcation (kerja sambil liburan).

Pasar properti beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish” biasa yang nanti akan naik dengan sendirinya tetapi jangan-jangan bearish terus sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang.

Biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Seperti perilaku milenial kemungkinannya: Milenial mulai menunda nikah, menunda punya rumah, dan menunda punya anak. Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial mendorong mereka memilih rumah ukuran mini.

Dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X sebentar lagi tidak di lirik milenial untuk bekerja di sana. Kantor tidak lagi di gedung-gedung yang mahal.

Gedung kantor bertingkat dengan jam kerja kaku akan banyak di tinggal milenial. Milenial ini masuk ke pasar kerja secara massif dalam 2-3 tahun kedepan ini dan dunia property harus mulai berstrategi lebih cerdik lagi.

Bagaimana sudah paham kan kenapa KREATIFITAS BISNIS PROPERTY DI ERA DANA KERING DAN MEMBACA PERILAKU MILENIAL itu penting

Source: KLIK DISINI

New Normal Itu Apa Ya?

New Normal Itu Apa Ya?

NEW NORMAL ITU APA YA?

Mendengar pelajaran dari guru marketing saya mas Yuswo Hady hari ini ada masukan besar di kepala saya. Bahkan saya harus merubah beberapa hal dalam bisnis saya setelah pemahaman yang dia berikan. Apa masukannya? yaitu Masukan tentang bagaimana kalau yang namanya “siklus” turun naik itu hilang atau tidak ada? Jadi New Normal Itu Seperti Apa?

Misalnya dunia property 4 tahun mati angin saat ini. Bagi beberapa pengamat ekonomi mengatakan itu siklus turun, tahun 2019 akan naik dan puncaknya 2020.

Apa yang terjadi kalau ternyata yang namanya siklus ekonomi itu hilang? Alias dunia property tidak pernah naik lagi, diam di tempat saja, rata. Mungkinkah siklus bisnis hilang?

Menurut guru marketing ini…MUNGKIN!.

Bergeser, berpindah akan menciptakan NEW NORMAL. Dan new normal itu bukan siklus. Nah mati ngak kita kalau ternyata bisnis kita masuk ke bisnis yang akan masuk ke dunia NEW NORMAL?,

New Normal Itu Seperti Apa?

Penyebabnya? Salah satunya adalah perilaku kamu milenial yang saya sarikan dari tulisan mas Yuswo Hady . Bener, milenial adalah “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan. Mengapa? Karena internet, sosmed dan gadget mempengaruhi Perilaku dan preferensi mereka.

Milenial sejak dini, sejak lahir bahkan sudah main gadget. New Normal Itu Seperti Apa?

Perubahan perilaku begitu drastis membuat banyak produk dan layanan menjadi tidak relevan lagi lalu punah!

Produk dan layanan apa yang bakal punah?

Contohnya golf. Tren dunia menunjukkan, sepuluh tahun terakhir viewership ajang-ajang turnamen golf bergengsi turun drastis setelah mencapai puncaknya di tahun 2015. Tahun 2017 bahkan turun drastis 75%. Porsi kalangan milenial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5%.

Olahraga elit ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X, namun tidak demikian halnya dengan milenial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak populer pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan punah.

Yang sudah kejadian sekarang adalah departement store. Tahun lalu kita menyaksikan departement store di seluruh dunia termasuk di Indonesia pelan tapi pasti mulai berguguran. Departemen store adalah tempat anjang sana baby boomer dan generasi X yang sekarang usianya di atas 50 tahun.

dan ternyata, departemen store bukan tempat kaum milenial berbelanja

Milenial berbelanja via online. Kemudian milenial tak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure).

Mereka ke mal bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

Lalu apa bisnis yang tumbuh bersama milenial?

Apa saja bisnis yang akan terganggu bahkan bisa punah karena perilaku milenial? Dan peluang apa yang bisa di ambil dari milenial?

Bagaimana sudah tau kan apa arti New Normal Itu Seperti Apa?

Source KLIK DISINI