fbpx
Sendiri atau Berpartner

Sendiri atau Berpartner

Sendiri atau Berpartner?

Ketika hendak memulai sebuah bisnis, satu pertanyaan yang sering diajukan adalah, apakah sebaiknya saya jalankan usaha ini sendiri atau saya perlu berpartner dengan orang lain? Partner yang dimaksud disini tentu saja bukan karyawan atau mitra eksternal, melainkan rekan pendiri (co-founder) yang artinya turut memiliki perusahaan yang Anda dirikan.

Saya melihat banyak pengusaha memilih untuk jalani bisnis sendirian. Dan itu untuk boleh saja, bahkan dalam beberapa aspek memiliki keuntungan. Misalnya, dia memiliki kontrol penuh atas keputusan bisnisnya. Ketika usahanya berhasil maka keuntungan sepenuhnya akan menjadi miliknya. Selain itu dia bisa mengamankan bisnisnya untuk jadi perusahaan keluarga yang bisa diwariskan kepada anak-anaknya.

Nah melalui artikel ini saya mengajak Anda untuk melihat alternatif lainnya, yaitu memiliki partner bisnis. Idealnya Anda berpartner sejak awal pendirian usaha. Namun tidak menutup kemungkinan anda baru menemukan partner (co-founder) ditengah Perjalanan. Contohnya, saya dan mas Farid Poniman berpartner sejak awal pendirian Kubik di tahun 1999. Sementara mas Jamil Azzaini baru bergabung sebagai co-founder Kubik di tahun 2005.

Apa saja keuntungan memiliki co-founder? Pertama, menjalankan bisnis ibarat naik roller-coaster yang panjang dan menakutkan. Peluang gagal 5x lebih besar dari peluang berhasilnya. Maka memiliki partner untuk berbagi semua kesulitan itu jelas akan menguntungkan. Kedua, kita tidak mungkin hebat dalam semua hal, partner anda bisa melengkapinya.

Ketiga, dan ini sangat penting. Ketika bisnis itu milik bersama, maka Anda tidak akan semena-mena menggunakan dana yang dimiliki perusahaan. Karena uang itu bukan milik anda sepenuhnya. Beda dengan kalau perusahaan itu milik anda sendiri, dana perusahaan seringkali terpakai untuk kepentingan pribadi. Dan itu jadi sumber awal kehancuran bisnis anda.

Itu sebabnya para investor (venture capital) lebih suka berinvestasi di perusahaan startup yang memiliki dua atau tiga founder. Demikian menurut Sanjay Mehta, seorang investor senior yang telah membantu lebih dari 40 startup di berbagai belahan dunia. Buktinya, Apple didirikan oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak. Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin. Uber didirikan Travis Kalanick dan Garret Camp. Gojek didirikan oleh Michaelanglo Moran, Nadiem Makarim, dan Brian Cu.

Apa sisi kelemahannya? Pertama, Anda tidak bisa semaunya sendiri menjalankan bisnis, semua harus atas kesepakatan bersama. Bisa jadi itu tidak seperti yang Anda inginkan. Kedua, potensi konflik. Bisa jadi ditengah jalan muncul perbedaan pandangan tentang arah bisnis atau kebijakan. Pecah kongsi seringkali mahal biayanya. Ketiga, tentu saja Anda harus bagi-bagi keuntungan dengan partner Anda.

Jadi bagaimana cara menghindari resiko diatas? Jangan terburu-buru cari partner. Luangkan waktu yang cukup untuk mengenal dia. Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya. Pastikan Anda memiliki visi dan nilai-nilai yang sama dengan dia. Mencari partner bisnis itu seperti mencari pasangan hidup. Jangan asal-asalan. Jangan diputuskan ditengah euphoria pandangan pertama.

Para Founder Kubik Group (Farid Poniman, Jamil Azzaini, dan Saya) bisa terus bersatu hingga saat ini memasuki tahun ke-17 karena kami memiliki visi dan nilai-nilai yang sama. Saya sudah bekerjasama dengan mas Farid lebih dari satu tahun sebelum kami memutuskan untuk membangun bisnis bersama. Kami sudah bekerjasama dengan mas Jamil selama lebih dari 2 tahun sebelum mengundang beliau menjadi Owner.

Nah bagaimana dengan Anda? Mau sendiri atau berpartner?

Source: KLIK DISINI

Indrawan Nugroho
Business Innovator
CEO CIPTA Consulting

Dapatkan artikel solutif terkait inovasi bisnis GRATIS setiap hari. Ajukan pertanyaan, dapatkan solusi. Join Klub Inovator Bisnis (FB Group) di bit.ly/klubinobis

Ketika Banyak Itu Sedikit

Ketika Banyak Itu Sedikit

KETIKA BANYAK ITU SEDIKIT

Artikel ini membahas hubungan antara generasi galau dengan produk yang nggak laku. Kalau Anda pernah berfikir, “Saya sudah ciptakan banyak produk (atau layanan) sehingga bisa penuhi setiap keinginan pelanggan, tapi kenapa justru sedikit yang laku?”, mungkin Anda akan temukan jawabannya disini.

Dulu kakek nenek kita tidak punya pilihan. Semuanya diputuskan oleh penjajah Belanda. Bapak dan ibu kita lebih beruntung dari mereka, pilihan sudah terbuka. Mau berprofesi jadi apa? Mau tinggal dimana? Bebas.

Kini, generasi kita punya lebih banyak pilihan. Mau kerja atau bisnis? Ngantor atau di rumah? Online atau offline? Disetiap alternatif itu, kita disajikan lebih banyak pilihan lagi. Apakah itu artinya kita jauh lebih beruntung?

Ternyata tidak. Bahkan justru sebaliknya. Itulah yang disimpulkan oleh Barry Schwartz dalam bukunya The Paradox of Choice: Why More Is Less. Barry mengatakan bahwa bagi kebanyakan orang, keharusan untuk memilih satu dari banyak alternatif bisa membuat mereka merasa terbebani. Semakin banyak pilihannya maka semakin besar bebannya. Apa akibatnya? Mereka ‘menyerah’ dan memutuskan untuk tidak memilih sama sekali.

Bisa jadi ini penyebab kenapa saat ini muncul generasi galau. Mereka bingung mau apa. Pindah-pindah pekerjaan. Gonta ganti profesi. Nggak nikah-nikah. Nggak jelas. Nggak pernah tuntas. Jangan-jangan karena mereka terlalu banyak diberi pilihan. Ada puluhan jurusan kuliah. Ratusan channel TV. Ratusan jenis profesi. Ribuan Friends di facebook (yang bisa diprospek jadi pasangan hidup). Juga milyaran apps yang setiap saat bisa di download.

Dua orang psikolog bernama Mark Lepper and Sheena Iyengar melakukan eksperimen di sebuah supermarket. Mereka mengajak pengunjung untuk mencicipi pilihan selai roti yang sudah disiapkan. Pengunjung tersebut diberi voucher diskon jika memutuskan untuk membeli.

Pada display pertama mereka memajang 24 pilihan selai dan pada display kedua mereka hanya memajang 6 pilihan selai. Apa yang terjadi? Hanya 3% pengunjung yang membeli pada display pertama. Sementara pada display kedua, 30% pengunjung membeli. Artinya, pelanggan cenderung untuk membeli justru ketika pilihan yang tersedia lebih sedikit.

Sekarang coba lihat kembali penawaran produk Anda. Ada berapa produk yang ditawarkan? Setiap produk berapa jumlah variannya? Jangan-jangan itulah sebabnya pelanggan Anda kebingungan dan akhirnya tidak memilih apa-apa.

Saya sering alami itu ketika datang ke restoran. Menunya ada enam halaman dan disetiap halaman ada 25 jenis masakan yang bisa dipilih. Saya langsung kehilangan selera. Saya mau makan kok malah disuruh mikir. Ada resto steak yang saya sukai. Menunya cuma selembar kertas. Pilihannya cuma dua: Wagyu atau Australian. Simple. Nggak pakai mikir. Langsung tunjuk terus makan. Yum!

Ketika Steve Jobs kembali ke Apple tahun 1997 hal pertama yang ia lakukan adalah mengurangi jumlah produk Apple hingga menjadi empat produk saja. Keputusan itu membuat tim RnD Apple menjadi lebih fokus. Tim Marketing lebih mudah dalam mengkomunikasikan produk Apple. Dan pelanggan lebih mudah dalam membuat keputusan membeli. Keputusan Steve Jobs itu menjadi titik tolak kebangkitan Apple.

Ingat, tugas Anda sebagai pengusaha adalah memudahkan hidup pelanggan Anda, bukan justru membuatnya lebih rumit. Anda yang harus berfikir keras untuk pelanggan Anda, bukan sebaliknya. Semua orang bisa membuat produk dengan banyak varian, tapi tidak semua orang mampu menciptakan satu produk yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan secara jitu.

Jadi, mau sedikit tapi dapat banyak, atau banyak tapi dapatnya sedikit?

Source: KLIK DISINI

Indrawan Nugroho
Business Innovator
CEO CIPTA Consulting

Dapatkan artikel solutif terkait inovasi bisnis GRATIS setiap hari. Ajukan pertanyaan, dapatkan solusi. Join Klub Inovator Bisnis (FB Group) di bit.ly/klubinobis

Saatnya Jadi Exponensial Leader

Saatnya Jadi Exponensial Leader

SAATNYA JADI EXPONENTIAL LEADER

Pada tulisan sebelumnya saya menyebut bahwa alasan kenapa banyak perusahaan saat ini gagal bersaing walaupun sudah melakukan inovasi adalah karena mereka berinovasi secara linear sementara dunia bergerak eksponensial. Jadi apa yang perlu dilakukan oleh mereka untuk jadi Exponensial Leader?

Jelas tidak cukup bagi mereka hanya sekedar melakukan perbaikan (improvement). Mereka perlu melakukan transformasi. Sayangnya menurut survei dari McKinsey, 70% upaya transformasi perusahaan gagal. Apa sebabnya? Sebagian orang mengira penyebabnya adalah teknologi. Nyatanya 84% upaya transformasi gagal disebabkan karena faktor orang (Forbes Insight).

Seberapapun hebatnya strategi bisnis yang sudah dibuatkan oleh konsultan kelas dunia untuk Anda, tetaplah orang-orang Anda yang akan menjalankan strategi itu. Secanggih-canggihnya teknologi yang di-install oleh vendor, tetap saja orang-orang Anda yang harus memanfaatkannya. Ternyata menggerakkan orang itu lebih sulit dari menyusun strategi atau meng-install teknologi terbaru.

Karena itulah maka peran pemimpin dalam proses transformasi itu menjadi sangat krusial. Orang tidak bergerak dengan sendirinya. Mereka perlu digerakkan. Kalaupun mereka punya insiatif untuk bergerak, ribuan kepala itu bisa jadi bergerak sendiri-sendiri ke arah yang berbeda-beda. Mereka perlu pemimpin yang bisa mengarahkan gerak langkah mereka.

Bicara pemimpin, kita perlu bukan sembarang pemimpin, melainkan pemimpin yang mampu membawa perusahaan bergerak secara eksponensial. D. Quin Mills, Ph.D, seorang profesor di Harvard Business School mengatakan begini, “Pemimpin yang baik membuat rencana bisnis yang lemah berhasil, sedangkan seorang pemimpin yang lemah dapat merusak meski itu rencana terbaik”.

Pemimpin seperti itu kita sebut dengan Exponential Leader. Seperti apakah ciri untuk Jadi Exponential Leader itu? Ada dua kemampuan khas yang mereka miliki supaya jadi exponensial leader. Kemampuan tersebut membuat mereka mampu membawa tim yang dipimpinnya meraih prestasi-prestasi yang eksponensial.

Para tokoh inovator bisnis dunia seperti Jack Ma, Larry Page, Steve Jobs, dan Elon Musk berhasil membawa perusahaannya tumbuh secara eksponensial karena memiliki kedua kemampuan tersebut.

Kedua kemampuan tersebut adalah Terobosan dan Dukungan. Terobosan adalah kemampuan pemimpin dalam menciptakan lompatan nilai bagi pelanggan jauh melampaui standar industri. Dukungan adalah kemampuan pemimpin dalam mendapatkan totalitas dukungan dari tim untuk melakukan lompatan-lompatan besar tersebut. Kedua kemampuan tersebut harus dimiliki dan dijalankan secara bersamaan dengan sama hebatnya. Kuat di salah satu dan lemah dilainnya tidak akan membuat Anda jadi Exponential Leader.

Piyush Gupta, CEO DBS Bank Singapore adalah contoh seorang yang Jadi Exponential Leader yang memiliki kedua kemampuan tersebut. Piyush melakukan terobosan demi terobosan di DBS Bank. Piyush berambisi untuk memindahkan semua aktivitas perbankan ke Gadget nasabah. Dari membuka akun, transaksi keuangan, konsultasi keuangan, berinvestasi hingga mengajukan pinjaman, semuanya dapat dilakukan tanpa berhubungan dengan ‘Bank’ sama sekali. Ambisi ini mewujud dalam sebuah aplikasi yang bisa digunakan siapa saja di seluruh dunia, bernama DigiBank.

Visi Piyush sederhana sekaligus sangat visioner. Dia ingin DBS Bank menjadi ‘invisible bank’, bank yang tidak terlihat. Tidak ada orang yang ingin berurusan dengan bank, begitu menurut Piyush. Apa yang orang inginkan adalah menabung, membeli rumah, atau membuka usaha. Maka dia ingin DBS Bank hadir di belakang layar.

Tanpa melibatkan peran aktif nasabahnya, DBS melakukan semua urusan finansial untuk mereka. Jadi ketika nasabahnya ingin beli rumah, tinggal beli aja. Ketika mau buka usaha, tinggal buka saja. Semua urusan finansialnya, sudah dibereskan oleh DBS dibelakang layar. Hebat kan?

Dengan semua terobosan yang dilakukan Piyush dan timnya, wajar jika kemudian DBS Bank dinobatkan sebagai the World’s Best Digital Bank.

Tentu saja, Piyush tidak mungkin melakukan semua itu sendirian. Piyush mendapatkan dukungan total dari setiap karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinannya. Apa buktinya? DBS memiliki DBS Power Up, sebuah aplikasi internal yang memungkinkan karyawan DBS untuk mengakses informasi, bekerja dan berhubungan satu sama lainnya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Hebatnya, bukan hanya para karyawan rela mengunduh aplikasi tersebut di Gadget mereka, namun mereka juga menggunakannya secara aktif. Artinya, mereka rela kerja 24/7 untuk mewujudkan visi Piyush.

Ketika manajemen DBS berinisiatif membuat program rekognisi ‘I Thank You’, 120 ribu apresiasi diberikan dalam 6 bulan pertama. Itulah bukti dukungan karyawan pada para pemimpin dan koleganya, serta terhadap terobosan-terobosan bisnis yang dilakukan DBS. DBS Bank mendapat penghargaan sebagai Asia’s Best Employer 2016-2017.

Nah itulah ciri dan contoh seorang Exponential Leader. Sekarang mari tanyakan pada diri kita sendiri, sejauh mana saya telah menghasilkan terobosan untuk tim atau perusahaan saya? Dan sejauh mana saya mendapatkan dukungan dari tim untuk melakukan lompatan-lompatan besar?

Indrawan Nugroho
CEO Corporate Innovation Asia (CIAS)
www.cias.co

Join Klub Inovator Bisnis – Indrawan Nugroho (FB Group)
Follow –> twitter: @indrakubik / IG: indrakubik / LinkedIn: Indrawan Nugroho

Serangan Maut Teknologi Digital

Serangan Maut Teknologi Digital

SERANGAN MAUT TEKNOLOGI DIGITAL

Saat ini, perusahaan mati jauh lebih cepat. Hasil riset dari Innosight menunjukkan bahwa dulu di tahun 1955, rata-rata usia kematian perusahaan adalah 61 tahun. Sekarang ini, rata-rata usia kematian perusahaan turun drastis menjadi hanya 17 tahun saja. Apa penyebabnya? Apa yang membunuh perusahaan-perusahaan itu?

Teknologi digital. Itulah dia sang pembunuh maut.

Teknologi digital berkembang jauh lebih cepat melampaui kemampuan manusia untuk mengikutinya. Apalagi jika manusia ini terjebak dalam organisasi besar yang penuh birokrasi dan silos. Betapapun cerdasnya orang-orang itu, betapapun kayanya perusahaan itu, when you can’t keep up, digital technology will finally kill you.

Tentu saja, tidak semua perusahaan jadi korban teknologi digital. Sebagian dari mereka justru mampu memanfaatkan teknologi itu untuk memperkuat posisinya di pasar, memenangkan pelanggan, dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya.

Teknologi digital membuat dunia bisnis menjadi binary. One and Zero. Satu dan Nol. Menang dan Kalah. Penguasa dan terjajah. Superstar and everyone else. Pertanyaannya, Anda ada dimana? Atau lebih tepatnya, Anda akan ada dimana?

Maka siapapun Anda, apapun bisnis Anda, UKM atau perusahaan multinasional, sekaranglah saatnya Anda mengambil kesempatan untuk menguasai pasar. Caranya? Kuasai teknologi yang relevan dengan bisnis Anda, kemudian dongkrak value perusahaan Anda dengan kekuatan digital.

Mari kita belajar dari masa lalu. Teknologi digital berkembang dipicu oleh jaringan seluler yang semakin hebat. Lihat gambar. Itu adalah ilustrasi yang dibuat oleh NOKIA Bell Labs yang menujukkan evolusi teknologi jaringan dalam 25 tahun terakhir dan prediksinya untuk 10 tahun kedepan.

Teknologi GSM lahir di awal 1990. Teknologi ini memicu lahirnya internet bergerak. Kalau sebelumnya kita hanya bisa mengakses internet melalui kabel di rumah atau di kantor, maka saat itu kita bisa berinternet ria dimana saja selama masih ada dalam jangkauan jaringan GSM.

Teknologi itu membuat orang bisa mendapatkan informasi dimana saja dan kapan saja dengan cepat. Hal itu memicu perubahan perilaku pelanggan. Ekspektasi mereka terhadap penyedia bisnis menjadi lebih tinggi.

Bisnis dituntut untuk punya website yang bisa menyediakan informasi yang cepat, lengkap dan selalu terupdate. Ini adalah era konektivitas. Perusahaan yang terlambat membangun koneksi informasi dengan para pelanggannya mati.

Fast forward ke tahun 2000. Teknologi 3G lahir dan membuka jalan untuk era baru bagaimana kita mengkonsumsi informasi melalui internet. Mesin pencari semakin canggih. Google pun lahir. Diikuti dengan lahirnya beragam media sosial seperti MySpace dan Friendster.

Google memberi kekuatan pada pelanggan untuk mencari informasi secara lebih komprehensif sebelum membuat keputusan untuk membeli. Media sosial memberikan jalan bagi pelanggan untuk meminta rekomendasi dan berbagi pengalaman mereka atas sebuah jasa atau produk.

Website perusahaan tidak lagi menjadi sumber utama pengambilan keputusan membeli. Media sosial dan product review mengambil alih. Era keterlibatan (era of engagement) hadir. Bisnis tidak cukup memberikan informasi satu arah kepada pelanggannya. Mereka harus ‘ngobrol’, terlibat aktif dalam keseharian si pelanggan. Cara jualan berubah total.

Bisnis yang tidak melibatkan diri dalam percakapan di dunia maya tidak lagi dianggap relevan oleh pelanggan hingga akhirnya mati kesepian.

Tahun 2010 kemudian lahir teknologi LTE (Long-Term Evolution) atau 4G yang mampu mengirim data 10 kali lebih cepat dari teknologi 3G. Nonton video di internet jadi lancar. Video call jadi asyik. Lahirlah Netflix, layanan video streaming yang membangkrutkan Blockbuster, perusahaan rental video terbesar di Amerika.

Lahirlah Pandora, Spotify, Apple Music yang membuat orang lebih memilih menyewa musik daripada membeli. Dimasa inilah banyak model bisnis baru bermunculan. Semuanya ditopang oleh teknologi digital yang semakin canggih.

Hari ini kita melihat perkembangan teknologi semakin menggila. Wearable computer sudah banyak digunakan pelanggan. Drone jadi mainan sehari-hari. Kecerdasan buatan (artificial intelligence) ada di setiap gadget kita. Kota pun semakin cerdas, terima kasih pada teknologi Internet of Things yang sedang naik daun.

Ini adalah era transformasi. Hari ini kita menemukan bahwa asumsi-asumsi yang kita miliki atas industri ternyata salah. Maka saatnya kita bertanya. Bisnis saya ini sebenarnya apa sih? Siapa sebenarnya pelanggan saya? Apa yang mereka butuhkan? Apakah model bisnis saya ini masih relevan?

Memang belum semua teknologi yang saya sebut diatas sudah siap pakai. Tapi itu tinggal tunggu waktu saja. Tidak lama lagi semua itu akan jadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Standar ekspektasi pelanggan pun akan naik lebih tinggi lagi. Artinya, perusahaan-perusahaan yang tidak mengadopsi teknologi tersebut pada akhirnya juga akan mati.

Sebentar lagi akan hadir teknologi 5G yang akan memberikan “unlimited experience and instant action for everything”. Inilah masa dimana semua benda akan saling terhubung tanpa intervensi manusia. Inilah eranya Augmented Reality dan mobil yang bisa jalan sendiri.

Mungkin saat ini Anda berpikir, “bisnis saya aman kok”. “Industri saya jauh dari ancaman teknologi digital”. Jika memang kepikiran begitu, maka sebaiknya Anda mulai ngobrol sama teman-teman di Kompas Gramedia, atau mereka yang kerja di travel agent, di Taksi Blue Bird atau mereka yang punya toko di Mangga Dua.

Tapi apa memang perusahaan saya harus melakukan transformasi digital? Memang seperti apa contoh transformasi digital di industri saya? Bagaimana cara saya melakukan transformasi digital?

Daripada penasaran dan nggak gerak-gerak, saya sarankan Anda untuk hadir di Asia Corporate Innovation Summit (ACIS) 2017 yang akan diselenggarakan di Jakarta tanggal 29 November nanti. Disana akan hadir para pembicara kelas dunia dari mancanegara yang berasal dari industri yang berbeda.

Ada Kapil Kane (Head R&D Intel China), Neal Cross (Chief Innovation Officer, DBS Bank Singapore), Dave Lim (Digital Strategy Advisor, Danone), Handry Satriago (Chief Executive Officer, GE Indonesia) dan Andi Kristianto (VP Corporate Planning, Telkomsel Indonesia).

Selama satu hari penuh mereka akan jawab semua pertanyaan-pertanyaan Anda seputar Transformasi Digital, dari strategi hingga eksekusi. Informasi dan pendaftaran langsung aja klik www.cias.co/summit

Saya berdoa agar kita semua bisa jadi pemenang di era disrupsi digital ini. Tentu saja, sebelum melangkah berjuang, kita perlu mempelajari peta pertarungan yang sesungguhnya dan belajar bagaimana menaklukkan setiap tantangan yang menghadang.

Sampai jumpa di ACIS 2017!

Source KLIK DISINI

Indrawan Nugroho
Business Innovation Consultant
Corporate Innovation Asia

SILAKAN SHARE JIKA BERMANFAAT
Dapatkan ide inovatif setiap hari GRATIS. Join Klub Inovator Bisnis – Indrawan Nugroho (FB Group) sekarang.