fbpx
Membaca Rasa Hati Saudara Kita

Membaca Rasa Hati Saudara Kita

MEMBACA RASA HATI SAUDARA KITA

Seorang teman pengusaha curhat panjang. Via voice note. Sambil terisak-isak. Gak kuat. Harus ambil keputusan berat. Belasan tahun operasi bisnis harus di stop.

Telaah pada putaran cash cukup berat. Hutang dagang gak kebayar. Inventory gak berputar. Pria ini harus tegar walau isak sedihnya gak bisa dia sembunyikan.

Saya faham dia baik. Baru saja rasanya beberapa bulan yang lalu saya hadir di usahanya. Wajah optimis. Puluhan orang semangat. Dan semua harus berakhir dengan PHK massal tanpa pesangon. Berat memang. Produknya tersier.

Ini sebab saya berhenti jadi konsultan bisnis. Hari-hari saya cukup larut dalam sedih. Jadi mikirin usaha teman saya. Larut. Kadang diam sendiri. Seperti melamun panjang. Saya baperan kalo sudah begini. Ikut kepikiran panjang.

Apa rasanya tiba-tiba gak ada kerjaan.
Apa rasanya tiba-tiba gak gajian.
Apa rasanya tiba-tiba harus hidup berwirausaha.

Padahal belasan tahun otot tubuh sudah diabdikan bekerja pada sistem yang ajeg dan stabil. Sulit pivot kalo belasan tahun sudah kaku sebagai pekerja.

Saya jujur gak habis fikir. Bagaimana makan anak dan istrinya, bayaran sekolah, beli kebutuhan hidup, bayar listrik.

Negeri ini bukan Kanada yang bisa transfer 2.000 dollar Canada ke rekening warganya. Atau seperti Jepang yang transfer 100 ribu yen langsung ke penduduk. Penduduk negeri ini sudah lama yatim piatu. Harus hidup sendiri.

*****

Penerbangan domestik ditutup. Entah bener atau nggak. Masih simpang siur. Ada sahabat masih bisa take off Malang ke Jakarta.

Maka ground handling landasan kehilangan pesawat yang biasa parkir, lalu crew check in off, abang troli gak ada job, supir taksi bandara puasa, outlet jualan di bandara off, pemasukan angkasa pura off, moda transportasi off, pedagang asongan terminal dan titik-titik hubung juga off.

Pariwisata jelas stop. Tempat yang biasa ramai kunjungan jelas stop. Bisnis event-MICE pelatihan dan sejenisnya jelas stop. Mall dan pusat keramaian jelas stop.

Supplier toko wisata jelas terpukul, pemandu wisata terpukul, karyawan karyawati juga off, putaran sektor wisata yang jadi harapan dampak ekonomi langsung ke arus bawah terhantam.

Maka turunan pekerja yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan itu jelas gak ada yang bisa nge gaji. Dari mana gajinya jika omset gak ada?

Pengusaha bukan Yayasan yang punya dana gratis yang siap dibagi-bagi.

Pemerintah larang PHK tapi pengusaha harus bayar gaji pakai apa?

Maka akan ada jutaan orang hari ini, detik ini, malam ini, yang sedang kosong pandangannya. Bingung. Gak tau lagi harus gimana.

Seorang istri yang menggendong kelaparan, karena gak ada susu. Kedinginan. Belum makan. Ibu menyusui pun ASI nya juga kosong. Gak ada supan makan untuk sang ibu. Berat.

Seorang ibu yang berdebar menatap angka pulsa di meteran pra bayar. Yang sulit untuk kembali diisi ulang KWH nya. Mengancam gelap rumahnya.

Seorang suami yang harga dirinya runtuh, perasaannya hancur, kehabisan cash, sementara istri dan anaknya merengek butuh asupan hidup.

Hari ini, itu terjadi, walau kita gak mendengar dengan jelas. Tapi sudah terjadi.

Seseorang di PHK, itu bukan 1 jiwa. Itu pukulan bagi 4 jiwa yang hidup atasnya. Anak-anak, pasangan hidup, orang tua.

Keras. Pedih. Sakit.

*****

Namanya manusia ya harus makan. Itu dorongan biologis paling mendasar.

Puasa pun ya harus buka. Ada sahurnya. Gak bisa puasa terus berhari-hari.

Jika seseorang di PHK, mungkin bisa ke keluarganya yang masih punya uang. Lalu bagaimana jika keluarganya juga di PHK.

PHK kali ini bukan kejadian satu dua orang, tapi kejadian langsung satu kampung.

PHK di pramuniaga pusat perbelanjaan.
PHK di pabrik yang tidak lagi berproduksi.
PHK di restoran yang sudah kehilangan pembeli.
PHK di outlet-outlet UMKM pinggiran yang kehilangan traffic.

Lalu bagaimana jika mereka sudah gak ngerti lagi cara cari makan yang halal?

*****

Pertama kegelisahan,
Lalu kebingungan,
Meningkat menjadi kegusaran,
Lalu masuk pada tekanan,
Hingga berujung pada kemarahan,

Dan bayangkan jika ada jutaan orang lapar dan marah.

Marah atas ketidakpedulian sesama.
Marah atas rasa ketidak adilan yang mendera.
Marah atas kelaparan yang seharusnya tidak terjadi.

Sebelum kemarahan ini menjadi kolektif dan tidak bisa kita perbaiki lagi, alangkah baiknya kita semua mulai peduli ke sesama.

Saudaraku yang masih ada cash, masih bisa bikin dapur umum, masih bisa ngasih makan gratis, mari jaga perut sesama.

Minimal saudara kita bisa makan.
Minimal saudara kita gak kelaparan.
Minimal saudara kita ngerti kalo mau kenyang harus kemana.

Mari membaca rasa. Rasa yang ada di hati saudara kita.

URS – Tetaplah Kuat Bangsaku

Source KLIK DISINI

Bagaimana, apakah artikel tentang Membaca Rasa Hati Saudara Kita diatas menggugah Anda untuk melakukan sesuatu?,, silakan share kesebanyak mungkin orang, semoga bermanfaat….

Mengertilah, Semua Ada Harganya

Mengertilah, Semua Ada Harganya

MENGERTILAH SEMUA ADA HARGANYA

Kita harus ngerti, bahwa kebanyakan rumah sakit rujukan Covid19 adalah rumah sakit pemerintah. Karena rumah sakit pemerintah itu dibawah kendali negara. Bisa paksa organisasi layani pasien Covid19.

Rumah sakit swasta ada yang layani Covid19 setahu saya. Tapi ya ada harganya. Dan beberapa rumah sakit swasta milih aman gak merawat Covid19, karena khawatir pasien non Covid19 gak mau dateng.

Akhirnya rumah sakit kehilangan revenue, padahal bangun rumah sakitnya pake hutang bank. Perlu dijaga arus pemasukannya, agar terus bisa bayar cicilan.

Kembali ke rumah sakit pemerintah.

Mengertilah semua ada harganya.

Karena milik pemerintah, maka dana operasionalnya pun memakai logika pengeluaran uang pemerintah. Kalo gak ada posnya, uang gak bisa keluar.

Ada rumah sakit yang nanggung makan tenaganya, tapi ada juga yang nggak. Udah include di gaji.

Dan kenyataan harus pakai APD disaat tugas akan memakan waktu pasang dan lepas. Akhirnya waktu makan jalan ke kantin atau tempat makan jadi berkurang.

Inilah mengapa Berkah Box di masa wabah ini menyasar tenaga kerja kesehatan. Karena dengan langsung di supply nasi box ke meja-meja kerja sahabat nakes, mereka bisa menghemat waktu makan dan menghemat banyak proses.

Jangan tuntut lagi rumah sakit pemerintahan menyediakan nasi box. Tolong jangan. Beberapa tagihan ke BPJS saja belum cair. Rumah sakit kekurangan kas operasional. Jangan lagi menuntut, saatnya kita bergerak saja.

Hari ini dapat berita supir ambulance kelaparan. Nabrak pagar. Ini tragis. Pejuang di garis depan, tidak terperhatikan.

Maka kami mengajak sahabat-sahabat untuk ambil perhatian pada nakes yang ada.

Jika ada kemampuan untuk menyediakan sendiri, silakan langsung bergerak membantu.

Jika ingin menitipkan bantuannya ke Berkah Box, insyaAllah Dapur 2 Balikpapan merencanakan distribusi kurang lebih 750 nasi box khusus ke tenaga kerja kesehatan. Setiap hari, senin sd jumat.

Cukup 10 ribu rupiah per box. Dan kelipatannya.

Semoga berita sederhana ini menyalakan nurani kita.

Ditengah kesulitan yang mendera, jangan sampai kehilangan intensi untuk bantu orang lain.

Source KLIK DISINI

URS – Berkah Box
Donasi WA KLIK DISINI

Terus Bergerak Atau Mati Saat Krisis

Terus Bergerak Atau Mati Saat Krisis

TERUS BERGERAK ATAU MATI SAAT KRISIS

Strength dia adalah di banyaknya armada sekaligus driver yang dimilikinya. Dengan kondisi seperti ini, siapa yang mau berpergian karena semua disarankan untuk stay di rumah saja.

Bluebird putar otak. Dengan semua kelebihan yang ia miliki, ia ambil peran menjadi bagian dari rantai distribusi, mau terus bergerak atau mati saat krisis.

Sama seperti peran GoJek dengan GoSend nya. Membantu delivery barang yang benar-benar dibutuhkan saat ini. Dengan hashtag #tetapterjaga ia ingin berkontribusi sambil menjaga roda bisnisnya tetap berputar

Berbisnis di masa krisis seperti ini harus putar otak. Be Agile, jadilah fleksibel dan lincah lah. Agility adalah kelebihan UKM dibanding bisnis-bisnis besar. Jika bisnis gajah sekelas Bluebird saja bisa bergerak lincah, kenapa kita tidak.

Terus Bergerak atau Mari Saat Krisis

Jangan tinggal dalam comfort zone. Identifikasi apa sekarang yang jadi prioritas utama di pasar. Jika core bisnis kita kebetulan bukan menjadi prioritas pasar saat ini, bergeserlah

Ambillah peran untuk produk-produk yg paling diburu pasar. Tak harus menjadi produsen.

Beberapa peran yang bisa kita ambil antara lain:
1. Penghubung produsen. Menjembatani produsen mana yang bisa kita libatkan untuk memenuhi supply tersebut.

2. Membantu mengidentifikasi market yang membutuhkan demand tersebut dengan memanfaatkan jaringan distribusi yang kita miliki saat ini.

3. Mengupayakan atau ikut mencarikan produk substitusi. Sebagai pengganti produk yang sedang dalam shortage atau langka.

4. Menjadi bagian dari rantai promosi atau affiliasi.

Yang penting adalah mengambil peran. Untuk tetap bergerak. Karena kita belum bisa memastikan kondisi seperti ini akan berlangsung sampai kapan

Sementara kebutuhan pegawai untuk keseharian mereka terus mendesak. Masalahnya tidak semua bisnis UKM kondisi keuangannya sehat.

Bahkan banyak yang sudah menyerah dan gulung tikar. Tidak semua UKM tahan banting dengan kondisi krisis saat ini.

Kuncinya cuma satu. Mau terus bergerak dan mengambil peran. Jika kita tetap bisa berkontribusi dan memberikan value, itu artinya kita memiliki harapan besar.

Bukan hanya harapan untuk bertahan. Bahkan untuk bertumbuh di momentum krisis seperti ini. Sekarang semua pilihan akan dikembalikan lagi ke kita sebagai pelaku bisnis

Apakah menyerah dengan keadaan, atau terus bergerak untuk bisa bertahan dan bertumbuh. Semoga bisnis kita menjadi segelintir bisnis yang mampu bangkit di momentum krisis ini

Semoga sharing ini bermanfaat

Salam Nginbound
Sam Ipoel

Dicuplikkan untuk dari materi Kelas Online Inbound Storytelling
bit.ly/inbound_storytelling

Source: KLIK DISINI

Praktik Growth Hacking Di Masa Krisis

Praktik Growth Hacking Di Masa Krisis

PRAKTIK GROWTH HACKING DI MASA KRISIS

Buku-buku tentang Crisis Management banyak sekali di pasaran.Mana yang paling baik?Kalau menurut saya pribadi, buku-buku management nya Peter Drucker, atau buku-buku leadershipnya Jack Welch, Simon Sinek, Malcolm Gladwell sdh mengcover apa yang perlu dilakukan di masa-masa krisis seperti ini.

Jika ingin yang lebih spesifik silahkan search buku-buku dengan topik Business Continuity Plan (BCP) sebagai guideline perusahaan atau enterprise untuk menghadapi situasi krisis seperti ini.

Biasanya sih, yang punya BCP, Contingency Plan, Resilience Strategy dan lain-lain adalag bisnis yang sudah mapan. Sudah gak mikir gimana gaji karyawan dalam 6 bulan, bahkan 12 bulan kedepan.

Kondisi ekstrim nya ketika perusahaan revenue nya anjlok setengahnya bahkan menjadi nol ketika situasi belum normal. Bagaimana jika kita berada disituasi belum mapan situasi finansialnya

Istilahnya buat operasional perusahaan bulan depan saja kita harus berpikir keras, karena sudah tidak ada lagi pemasukan. Iya beda bidang bisnis punya standar nya masing-masing

Kalau mau jujur sebenarnya untuk survive di masa krisis buat UKM ini sangat terbuka peluangnya. Responsif, tapi jangan reaktif.

Kita harus paham benar bagaimana merespon situasi seperti ini, tetap tenang dan tidak grasak-grusuk asal action. Bisa makin memperparah situasi

Sikap pertama adalah, Don’t Deny. Jangan menyangkal jika bisnis kita terdampak. Gak perlu jaim dan pura-pura semua baik-baik saja. Berlarut-larut dalam situasi dan bahkan menyalahkan keadaan

Ini malah akan membuat kita semakin lambat merespon situasi tersebut dan menyianyiakan waktu kita. Terima situasinya, hitung benar berapa loss saat ini dan potential loss nya dalam beberapa bulan kedepan.

Jika kita bertahan di situasi seperti ini dengan tanpa perubahan strategi. Kedua, analisa lagi Product Market Fit dengan situasi yang berubah. Apa yang menyebabkan revenue turun drastis.

Besar kemungkinan sebabnya adalah produk kita bukan menjadi prioritas di masa-masa seperti ini. List semua produk yang jadi kebutuhan di pasar saat ini.

Daftar semua produk atau komoditas yang menjadi kebutuhan paling mendesak di situasi seperti ini

1. Alat perlindungan diri: masker, hand sanitizer, hazmat

2. Logistik dan makanan siap saji selama masa isolasi: beras, gula, garam, teh, kopi, mie instan, catering dll

3. Nutrisi atau suplemen untuk meningkatkan imunitas: Vitamin C, madu, jamu-jamuan, immune booster dll

4. Sarana dan media komunikasi: Internet, aplikasi bertukar pesan, meeting online (seperti Zoom)

5. Antar jemput barang: seperti Go Send, atau kurir lokal

6. Home Entertainment and Education pembunuh kebosanan: Game edukasi, home theatre, rental film online, mainan anak dll

Coba evaluasi lagi produk kita. Apakah sudah FIT dengan kebutuhan market saat ini. Jika sudah tepat, effort marketingnya gak terlalu susah.

Beri tahu orang sebanyak-banyaknya, terutama di wilayah sekitar bisnis kita kalo kita tetap buka dan melayani kebutuhan produk ini. Jika produk kita masuk kategori tidak mendesak ada dua opsi yang bisa kita lakukan.

Totally doing nothing, dengan konsekuensi merumahkan karyawan dan hilangnya revenue. Take action dengan ikut mengambil peran positif dan berkontribusi.

Pertama ini adalah momentum yang tepat untuk melalukan Brand Marketing sambil berbuat kebaikan.

Brand yang kita bicarakan sebelumnya Aulia Fashion memproduksi 13 ribu masker bukan untuk dijual, tapi untuk dibagikan gratis. That’s generosity atau kemurah hatian. Semangat ingin yang besar untuk berbagi di masa krisis

Ada Brand seperti Wings, pemegang Brand merek NUVO yang ikut memproduksi hand sanitizer besar-besaran dan tetap dijual dengan harga wajar lewat saluran distribusi mereka

Atau SOHO pemilik brand IMBOOST yang produknya banyak ditimbun orang, tapi tetap berusaha memproduksi dan menjualnya dengan harga normal, dan mewarning spekulan produknya

Jika kita belum mampu produksi, bisa mengambil peran dibidang distribusinya, penghubung antara produsen dengan market yang membutuhkan. Memberikan gratis itu keren jika kita memang memiliki resource berlebih

Membeli dan menjual lagi dengan untung yang wajar, tidak berlebihan itu juga keren karena bisa membantu memperkecil ruang para spekulan, penimbun kapitalis yang mengambil untung dari penderitaan orang.

Banyak peran yang bisa kita ambil di situasi seperti ini. Mebuat roda bisnis kita tetap berputar sambil membantu ketersediaan barang di market.

Di sisi yang lain, karyawan Anda tetap bisa menerima gaji dengan layak dan tak lagi menjadi beban perusahaan. Jadi perlukah strategi khusus menghadapi situasi krisis seperti ini.

Mengevaluasi lagi produk kita apakah masih fit atau pas dengan kebutuhan pasar bukanlah strategi baru.

Masih strategi yang sama dan ada di modul Pre Launch Marketing (PLM) – Praktik Growth Hacking yang teman-teman sudah beli itu. Strategi disana masih sangat valid untuk diterapkan di situasi seperti ini

Bahkan ini adalah momentum untuk menambah market share bisnis kita jika core bisnis kita sudah match dengan kebutuhan pasar. Meningkatkan volume penjulan, memperluas jangkauan pasar, menambah jumlah customers

Jika belum benar-benar match pun, ini tetap menjadi peluang yang baik untuk growing prospek dan customers. Ketika situasi sudah kembali normal, mereka akan menjadi prospek berkualitas untuk bisnis kita yang lama

Minimal untuk membangun Brand Awareness, membuat Brand Anda dikenal lebih banyak orang lagi. Masalah hanya akan menghampiri orang yang tidak mau bergerak dan terus menyalahkan keadaan

Atau mereka yang sudah paham kalau produk nya sedang gak fit di market, tapi masih membuang-buang resource buat mempromosikannya. Jika kita masuk kategori seperti ini, sungguh diam itu lebih baik

Jadi semua akan dikembalikan lagi ke kita. Strategi masih sama, mulai lagi dengan Product Market Fit. Setelah itu lanjutkan dengan step praktik growth hacking yang lain..

  • Segmentasi dan Targeting
  • Akusisi Pelanggan
  • Aktivasi Pelanggan
  • Retensi Pelanggan
  • Revenue Generation
  • Drive Referrals
  • Evaluasi dan Optim

Insya Allah semua ada di modul penjelasannya

Silahkan di explore ya.

Semoga bisnis teman-teman bisa terus bertahan dan bertumbuh ditengah situasi seperti ini

Stay positive and grow

Salam Nginbound
Sam Ipoel

Note:
Buat yang masih belum punya modulnya masih bisa order di link berikut bit.ly/pesanmodul_plm

Source: KLIK DISINI

Kita Masuk Madzhab Yang Mana, Optimism Atau Positivity?

Kita Masuk Madzhab Yang Mana, Optimism Atau Positivity?

KITA MASUK MADZHAB YANG MANA, OPTIMISM ATAU POSITIVITY?

Kali ini saya akan share tentang beda antara Madzhab OPTIMISM and POSITIVITY. Dua hal yang nampak sama, tapi sama sekali berbeda

Menurut penulis kenamaan Simon Sinek, pemahaman yang salah terhadap dua hal ini akan berdampak pada action yang kita ambil nantinya

Apa yang membedakan kedua kata tersebut “ACCEPTANCE” atau penerimaan keadaan. Optimisme itu adalah sebuah keyakinan akan masa depan yang lebih baik

Artinya ia menerima dan mengakui jika situasi yang sekarang berbeda dari yang kita harapkan. Berpikir optimis artinya, jika saya memberikan respon dengan melakukan action yang berbeda pada situasi yang sekarang, maka hasilnya akan lebih baik

Intinya disini ada respon yang berbeda terhadap situasi yang berjalan tidak semestinya

Lain OPTIMISM lain pula POSITIVITY

Kalau positivity itu sikap selalu berpikir positif tanpa mau tahu situasi dan kondisinya seperti apa. Pokoknya berpikir positif aja, semua baik-baik saja

Tidak ada “acceptance” atau penerimaan terhadap situasi saat ini. Karena ia masih berpikiran segala sesuatu masih berjalan seperti biasa, karena ia sendiri tutup mata

Bahkan berpikir kalau orang-orang yang share berita-berita kewaspadaan terhadap berita crisis sebagai orang yang paranoid. Bagi pebisnis, sikap perbedaan mental optimisme dan positivity ini berdampak sangat signifikan bagi pebisnis

Pebisnis yang optimis akan sepenuhnya sadar dan menerima bahwa situasi yang mereka hadapi sekarang berbeda

Bagi mereka yang bidang bisnisnya berada di “Green Zone” atau diuntungkan dengan situasi seperti ini, akan fokus meningkatkan produktivitas, menambah kapasitas produksi sambil menekan cost sebagai respon terhadap demand tang melonjak secara eksponensial

Bagi pebisnis yang berada di “Red Zone” dimana produknya tidak menjadi prioritas di market akan merespon dengan hal yang berbeda pula, namun tetap terencana dan terukur

Mereka bisa bergeser sementara ke “Green Zone” dengan ikut produksi, atau menjadi bagian di rantai distribusinya, mempertemukan demand dengan supply

Yang bermasalah adalah ketika pebisnis penganut fanatik madzhab positivity. Tidak sadar dan tidak mau tahu kalau bisnisnya sedang berada di zona merah dan terus memaksakan “push the product to the market”

Meskipun sedang tidak cocok antara prioritas kebutuhan pasar dengan produk yang mereka tawarkan. Ketika mereka omset menurun, daya serap pasar melemah, mereka malah gelontorkan budget promosi, diskon besar-besaran

Bukan untung yang akan didapat malah marketing cost yang akan makin membengkak. Yang tidak bisa dipahami adalah mereka yang sama sekali tidak mau tahu dengan kondisi sekarang

Hanya modal berpikir positif tidak ada action apa-apa. Sambil terus berharap semua akan membaik dengan sendirinya. Pola pikir kita akan mempengaruhi response kita terhadap situasi krisis seperti ini

Optimisme YES
Positivity NO

Salam Nginbound
Sam Ipoel

bit.ly/inbound_strategy

Source: KLIK DISINI

Mensiasati Marketing Buat Pebisnis Property Di Era Krisis

Mensiasati Marketing Buat Pebisnis Property Di Era Krisis

MENSIASATI MARKETING BUAT PEBISNIS PROPERTY DI ERA KRISIS

Problem terbesar pebisnis property di masa krisis saat ini merubah mindset, madzhab positivity, hanya berharap situasinya cepat membaik, tapi melakukan strategi business as usual, strategi yang lama, tanpa perubahan, tanpa penyesuaian sebagai respon terhadap situasi krisis seperti sekarang. Lalu bagaimana cara Mensiasati Marketing Buat Pebisnis Property Di Era Krisis

Contoh: Kita kita mendapati jualan properti sedang lesu, omset menurun, yang kita lakukan kita cuma gencarin promo

Diskon besar-besaran, jumlah sebaran titik iklan ditambah, baik online maupun offline. Dampaknya tidak akan menolong banyak ke penjualan. Malah cost marketing kita yang akan semakin membengkak

Kalaupun terjadi closing, tentu saja marginnya sudah jauh berkurang. Graphic sudah pernah sy share di grup ini juga ga ya? Saya suka banget dg grafik ini

Judul aslinya: “Decoding the economic of Covid-19. Potential Winning and Losing Sectors in Egypt in the short term”

Pemetaan sektor-sektor industri ini dibuat untuk Mesir oleh Egypt Financial Consultant, badan penasehat keuangan mereka. Tetapi ketika diimplementasikan ke negara yg lain, masih sangat valid.
Dan bisa menjadi panduan yang mudah untuk menysun strategi sebagai respon menghadapi situasi krisis

Kalo secara garis besar sektor industri bisa kita bedakan jadi dua. Ada Green Zone, zona hijau, yang paling diuntungkan dengan krisis ini

Ada Red Zone, zona merah, bisnis-bisnis yang sangat terpukul dan bahkan terpuruk dengan adanya krisis ini. Zona hijau ini bisnis-bisnis yang lagi dapat momentum. Lonjakan demandnya luar biasa

Bukan hanya puluhan atau ratusan persen, bahkan bisa sampai ribuan dan ratusan ribu persen. Terutama di zona hijau paling ujung, medical supply and services

Alat Perlindungan Diri seperi masker, hand sanitizer, sabun cuci tangan, baju hazmat dll

Ekspor Indonesia untuk memenuhi kebutuhan ini, bulan Januari dan Februari 2020 saja melonjak sampai 500ribu persen naiknya

Untuk memenuhi permintaan China, Singapura, Malaysia, Hongkong. Belum permintaan dalam negeri sendiri. “Safety” menjadi kata kuncinya

Secara default, masih menurut grafik diatas, Construction and Real Estate ada di Zona Merah juga, tapi bukan yang paling bawah

Artinya property bagi pebisnis property dalam masa krisis ini sedang tidak menjadi prioritas kebutuhan pasar. Yang jadi prioritas tentu saja sektor-sektor di zona hijau sebelah kanan tadi

Kesehatan dan keselamatan, ketahanan pangan dan kebutuhan komunikasi. Jika kita adalah pebisnis yg berada di zona merah, maka ada beberapa opsi yang bisa diambil

01. Mengalih fungsikan property-propertynya untuk ikut menjadi supplyers kebutuhan di Zona Hijau

Membuat konsep rumah isolasi mandiri yang sangat nyaman. Seperti villa, cottage atau resort. Untuk membantu menyelesaikan shortage atau kelangkaan di bidang ini

02. Tetap dengan model lamanya, tapi adjustment di materi marketing dan promonya. Lebih menekankan pada issue-issue yang jadi concern di zona hijau

Menekankan bahwa kita bisa memenuhi dan mensolusikan tiga keresahan utama masyarakat diatas

Untuk keresahan atau pain point tentang kesehatan dan keamanan

Tunjukkan kepada market betapa ketatnya Anda melakukan pemeriksaan: kendaraan yang masuk, semprot disinfektan ke perumahan dan kendaraan masuk, pembagian masker ke seluruh penghuni, operasi untuk mencegah penghuni perumahan keluar rumah

Aktivitas-aktivitas seperti ini yang Anda gencarkan, kemudian Anda storytelling kan

Ini adalah moment dimana orang mau membayar lebih demi mendapatkan jaminan kesehatan, perlindungan dan keselamatan

Untuk probabilitas atau angka harapan hidup yang lebih tinggi

Intinya adalah tunjukkan ke market, bahwa perumahan Anda jauh lebih concern dan care terhadap kesehatan dan keselamatan warganya dibanding perumahan yang lain

Terkait isu ketahanan pangan.

Supermarket di perumahan siap mengantarkan pesanan kebutuhan sehari-hari Anda selama masa karantina. Bahan-bahan makanan pokok kita pastikan tersedia dengan harga yang wajar. Anda tidak perlu menimbun.

Terkait isu komunikasi. Anda bisa menambahkan gimmick, free internet atau WiFi gratis selama masa pandemik Covid-19

Disitulah budget marketing kita habiskan, demi menunjukkan bahwa kita lebih siap menghadapi situasi-situasi semacam ini dibanding perumahan atau developer yang lain

Apalagi jika story tentang perumahan Anda sampai viral, ini advantage banget buat Brand dari perumahan Anda

Opsi selanjutnya dalam Mensiasati Marketing Buat Pebisnis Property Di Era Krisis

03. Tinggalkan bisnis properti untuk sementara waktu, ikut memanfaatkan momentum memenuhi kebutuhan di zona hijau

Libatkan semua channel sales dan marketing yang kita punya. Goalsnya sederhana, membangun jaringan dan database prospek yang baru

Gak harus jadi produsen, yang penting bisa ambil bagian di rantai supply chainnya. Yang penting Anda bisa database end user yang baru

Sesuaikan barang yang kita jual atau distribusikan dengan segmen market yang akan kita sasar. Jika main di menengah bawah ya ambil di sembako dan sejenisnya

Jika main di menengah atas bisa ambil di produk-produk nutrisi, multivitamin untuk imunitas tubuh, sabun cair cuci tangan dll. Intinya sesuaikan produk dengan segmennya

Dengan begini kita akan kenal dan terkoneksi dengan lebih banyak orang, baik sebagai prospek maupun channel promosi yang akan membantu mereferensikan produk properti kita nantinya

Setelah masa Covid-19 usai, database ini yang akan kita aktivasi

Messagenya disini adalah meskipun property kurang begitu diuntungkan dengan situasi pandemik, jangan diam dan pasrah dan etep terus begerak

Minimal bikin sesuatu yang bagus buat branding brand perumahan atau properti kita

Bangun Brand Awareness, manfaatkan momentum ini untuk menunjukkan kalau Anda lebih tanggap dan siap dibanding Brand yang lain

Silahkan banting setir dengan sebuah tujuan, growing your connection, and prospect database

Semoga sharing Mensiasati Marketing Buat Pebisnis Property Di Era Krisis bermanfaat

Salam Nginbound
Sam Ipoel

Source KLIK DISINI

INBOUND MARKETING ONLINE CLASS
bit.ly/inbound_storytelling

Canada vs Indonesia, Rakyat Dapat Apa?

Canada vs Indonesia, Rakyat Dapat Apa?

Indonesia vs Canada

Postingan tweet ini saya temukan di lini masa. Canada ngasih benefit ke warganya atas Covid yang melanda.

Senin ngisi form, rabu cair. 2000 Dollar Canada. Kisaran 22 juta rupiah. Dalam 4 bulan kedepan. Bakal dapat setiap bulan. Ajib.

Detailnya nanti cari tahu sendiri. Ini untuk semua warga, atau untuk segmen tertentu. Tapi ini nyata banget.

Dalam sub komen postingan tweet ini, beberapa netizen +62 membandingkan dengan negerinya. Intinya mereka putus harapan.

“Itu Kanada, ya elah Indonesia, bisa idup juga syukur.”

“Ya gak usah banding-bandingin sama negara maju, gak usah ngimpi.”

“Canda brow.. Jauh…”

Dan berbagai komen pesimis lainnya.

Walaupun konon sebentar lagi web pra kerja negeri ini mau ngasih dana ke masing-masing rekening anak negerinya. wallahu’alam

*****

Malam ini saya iseng buka data Kanada. Memang negaranya luas. Daratannya 9.9 juta km persegi. Sementara kita Indonesia 1.1 juta km per segi.

Tapi konon Kanada di bagian utara Amerika itu dingin banget. Andai banyak sumber daya alam pun, gak sebanyak Indonesia. Coba aja cek negeri ini. Dalemnya, permukaannya. Jadi duit semua.

Tentang kepadatan juga kita lebih padat. 138 manusia per km persegi. Kanada hanya 3.92 km persegi. Kanada lebih lengang. Populasinya 35 juta. Sementara kita on going ke 300 juta.

Namun PDB Kanada dengan Indonesia terpaut tipis.

Kanada di 1.529 T USD (2016)
Itu data di print screen wikipedia

Dan di 2019 Kanada sudah di 1.712 T USD
Sedangkan Indonesia di 1.100 T USD

Kanada memiliki besaran Ekonomi nomor 10 sementara kita nomor 16. Makanya kita masuk G20. Deket kan?

Tapi begitu ke pendapatan perkapita, dimana kekuatan ekonomi sebesar itu dibagi ke seluruh jumlah penduduk.

Kanada berada di 45.447 USD perkapita
Sementara itu,
Indonesia berada di 4.120 USD perkapita

Kesejahteraan per penduduk di Kanada berada urutan ke 15 dunia.

Sementara kesejahteraan per penduduk di Indonesia berada pada urutan ke 106.

He he he…

Secara besaran ekonomi kita dekat…

Tetapi begitu dihitung dari porsi untuk tiap penduduk, kita berantakan, ranking 106.

Kenapa?

Karena bilangan pembagi penduduk Kanada hanya 35 juta orang..

Sementara bilangan pembagi penduduk kita itu di 271 juta orang.

Canada vs Indonesia

*****

Jalan keluar….

Melihat data yang begitu gamblangnya, sebenarnya negeri ini tinggal masuk pada proses rekayasa ekonomi.

Kita jangan nyerah gitu aja. InsyaAllah anak bangsa ini banyak yang pinter-pinter dan ahli-ahli. Tinggal dikumpulin, dipimpin, dan diberi tempat. Selesai.

Besaran kita 1.100 T USD. Itu nilai produksi gross negara. Selama 1 tahun.

Kalo mau ngejar ke pendapatan perkapita 45.000 kayak Kanada, berarti mesti lompat 10x

yaudah, tinggal kalikan 10 aja itu 1.100 T USD.

Kita butuh 11.000 T USD produktifitas ekonomi dalam negeri.

Ada sekian banyak sumber daya alam.
Ada 200 juta generasi produktif
Ada segala macam sumber daya.

Tinggal kita mau bergerak bersama atau nggak?

Wabah ini akan membuat masing-masing negara mempertebal sekat. Saatnya kita perkuat kekuatan produksi ekonomi dalam negeri.

Bisa. Sangat bisa.

Yang ngomong gak bisa biasanya kebanyakan makan kuliah formal pertumbuhan ekonomi, jadi melihat angka tumbuh 1.000% atau 10x jadi takut.

Berlindung di pertumbuhan 4-6% per tahun. Ya elah.

Arahnya udah jelas.

Kayak perusahaan kan.

Kalo mau naikkan produktifitas, benerin manajemen.

Komisaris sebagai pemilik perusahaan harus sikat top manajemen yang maling-maling. BOD bersihkan dari penjahat.

Kalo BOD nya udah bener. Benerin SDM di struktur perusahaan. Didik. Yang gak bisa di didik, di disposisi, carikan pos yang dia bisa produktif. Kalo gak bisa juga, pecat.

Tim pembelian dicek. Yang makan gratifikasi atau cashback hajar. Eksekusi. Pecat.

Canada vs Indonesia

Tim produksi dipacu. Pake sumber dana yang ada. Debt ditahan, atau bayar sekalian. Cost dihemat. Kerja efisien.

Tim sales yang kejar revenue pacu. Kalo di negara revenue dari pajak dan non pajak.

Sikat pajak ke kelas ekonomi atas. Besarkan arus pemasukan non pajak. Re negosiasi pengelolaan sumber daya alam yang berat sebelah.

Di perusahaan, biasanya jadi gak produktif ketika sentra kekuasaan terlalu banyak. Bias. Banyak raja kecil. Semua direktur seakan punya faksi masing-masing. Program dibawah gak selesai.

Kalo komisaris selaku owner perusahaan melihat begini, harusnya putuskan kekuatan komando secara bulat. Jangan banyak bias kekuatan.

Komisaris pilih yang bener. Top manajemen perusahaan gak boleh terlalu banyak kepentingan. Terlalu banyak faksi. nanti sibuk gak kerja-kerja. Kelahi aja. Saling nyari panggung, saling jegal program.

Nah…

Negara ini…

Milik rakyat…

Komisarisnya ya kita ini…

*****

Jadi… Kalo negara ini mau kuat, naik sejahtera, …

Tergantung komisaris aja.. Tergantung kita..

Mau apa nggak…

Kalo saya optimis bisa…

asal dikerjain dari sekarang…

Mau ikutan?

URS – on the way

Source KLIK DISINI

Canada vs Indonesia

Bebas Duplikasi Nasi Berkah Box

Bebas Duplikasi Nasi Berkah Box

BEBAS DUPLIKASI NASI BERKAH BOX

Hari ini sabtu. Bukan harinya membagi berkah box. Namun kami distribusikan sekitar 100 nasi box. Diluar donasi berkah box. Pribadi saja.

Ada titik kumpul supir angkot di Balikpapan. Orang sini menyebutnya taksi.

Kami membagi nasi cukup sore, kami berharap akan dibawa pulang untuk makan malam.

Ternyata kami lihat langsung dimakan. Curi dengar dari sahabat supir angkot, sudah dari pagi gak makan.

“Pagi tadi cuma makan roti gepeng, sama teh gelas”

Roti gepeng. 800 rupiah. Nampak sedikit terigu, namun kaya pengembang. Ditambah teh gelas. Konon 1.200. Total 2.000 rupiah. Budget Makan pagi.

Seharian nongkrong nunggu penumpang, kalo ada, buat beli mie, campur roti gepeng, makan berlima di rumah. Ada keluarga yang nunggu.

Itulah fakta yang kami temukan hari ini. Kami punya video dimana sahabat ini berlarian ngejar mobil kami. Sampai bergerombol ambil nasi box. Gak kami tampilkan, takut tidak mencontohkan social distancing. Mau gimana lagi.

Masih terbayang-bayang malam ini, banyak orang yang terkena dampak wabah, terutama di sisi ekonomi. Sangatlah berat. Padahal tidak lockdown. Tapi semua orang pilih diam di rumah.

*****

Sahabat, senin besok Berkah Box insyaAllah mendistribusikan 1.950 box per hari. Dari senin sd jumat. 9.750 nasi box per pekan.

Kami dalam posisi yang ingin berteriak sekencang-kencangnya, tiru saja gerakan kami, bedakan namanya, agar lentur dan teman-teman bisa bergerak independen.

Yang punya warung kuliner gak jalan, pasti ada dapurnya kan? Jadikan saja organ sociopreneur. Bangun tim. Ada tim fund raising donasi, ada tim produksi, ada tim distribusi.

Yang punya dapur rumah tangga, kalo sekiranya kuat 100-300 nasi box per hari. Buat saja yang sama dengan Berkah Box.

Modal bikin gerakan ini hanya HP, data, alat masak. Sudah.

Gak ada fotografer profesional, gak ada designer poster penuh warna, gak ada platform web canggih, kami numpang di amalsholeh dot com.

Kami terima donatur manual via WA. Bikin grup WA donatur. Ngobrol sama donatur.

Lakukan saja persis. 10 ribu per box. Lakukan senin sd jumat.

Jika yang seperti Berkah Box ada 1000 gerakan saja, berarti sudah 2 juta nasi box. Tolong ditiru aja.

*****

Kami ngerti hambatan perasaannya. Terutama saya yang ngawalin fund raise. Pasti ada beban di hati jadi dikira minta-minta.

Gak usah minta-minta. Cerita aja. Ceritakan di FB. Pake tulisan alami aja. Apa yang ada di kepala, ya ditulis.

Letakkan nomor HP Admin WA, lalu siapkan nomor rekening penampungan. Laporkan berkala. Realisasikan amanah.

Sabar, mau 10 nasi box per hari, tapi jalani terus. Saya tahu pastilah bosen.

Jangan berat mikit untungnya ada apa nggak. Sisihkan wajar aja untuk operasional. Yang wajar. Agar kedepan bisa punya karyawan dedicated. Dan untuk penambahan alat dapur.

Tidak perlu risau dikira minta-minta. Kita tidak menjapri temen satu-satu. Cerita aja.

Gak usah juga baper kalo temen-temen terdekat malah gak ikutan donasi. Wajar aja. Kan tahu kurang-kurangnya kita. Males kali mereka. Ya gak papa.

Tapi nantinya secara perlahan, pasti ada orang baik yang dukung. Sabar aja. Nanti pelan-pelan ada yang donasi terus menerus. Sabar aja.

Yang penting konsisten. Jangan berhenti. Jalan terus.

*****

Yang lapar banyak.
Yang gak bisa makan banyak.

Kami gak bisa sendirian. Kemampuannya hanya segini. Kalo temen-temen juga gerak di masing-masing wilayahnya, insyaAllah kasih sayang Allah turun ke bumi nusantara.

Pastilah Allah azza wa jalla kasih fadhilah bagi yang menggerakkan kebaikan.

Terus sangka baik. Jangan hitung-hitungan rupiah, bisa jadi gak ada sisa sama sekali, habis untuk operasional. Gak papa. Sabar.

Banyak yang lapar…
Banyak yang gak bisa makan…

Tolong bergerak…

URS – Berkah Box
Donasi WA KESINI << klik aja

Source KLIK DISINI

Belum Makan Nasi Bu, Dari Pagi – Berkah Box

Belum Makan Nasi Bu, Dari Pagi – Berkah Box

Belum Makan Nasi Bu, Dari Pagi…. – Berkah Box

Ada kuota lebih dari Nasi Berkah Box chapter Balikpapan. Akhirnya kami bagikan di titik-titik kumpul ojeg dan sahabat di jalan.

Sedetik tim kami turun bagikan nasi, seorang bapak langsung panggil teman-temannya,

“Woi, nasi woi, sini…”

Alhamdulillah yang diseberang jalan berlarian. Walau cukup bergumul, tapi tidak sampai ada perkelahian. Alhamdulillah.

Sepintas mereka ucapkan terima kasih, lalu menyampaikan ke kami,

“Belum makan Nasi bu, dari pagi… sepi…”Berkah Box

Para tukang ojeg ini menunggu di terminal. Biasanya ada trayek bus Balikpapan-Samarinda. Berhenti di terminal bus Batu Ampar Balikpapan.

Trayek bus sudah sangat sepi arusnya. Entah apa yang bapak-bapak ini tunggu. Mereka gak bisa langsung Pivot seperti kita yang langsung pakai teknologi untuk tetap bertahan hidup.

Jualan pake online, antar pake go send, seminar pake zoom. Bapak-bapak ini gak bisa.

Dahulu ada putaran uang kecil,

Memanggul barang dari penumpang, ada tips. Ekonomi berputar.

Ada penumpang turun naik bus, jual minuman asongan sama kacang, ada pemasukan.

Masih ada arus manusia bolak balik yang bawa uang, belanja ke orang kecil, memutar ekonomi orang kecil.

Dan sekarang semuanya : HILANG.

Krisis moneter jarang menyentuh rakyat bawah. Rakyat bawah masih bisa makan. Urusan dollar naik, orang kecil gak gitu risau. Masih bisa makan.

Hari ini jalanan kosong. Mall kosong. PHK terjadi dimana-dimana. Tidak di lockdown paksa saja, orang yang punya uang memilih melockdown diri. Alamiah.

Nampak di lapangan pukulan wabah ini sangat keras. Padahal ini bukan Jabodetabek. Bukan. Apalagi disana. Entah seperti apa rasanya.

Yang tadi dibagi hanya nasi box. Gak juga mewah. Tapi begitu berharganya. Berbinar-binarnya bapak-bapak ini bawa nasi berkah box.

Ada yang kami gak bisa lupa, seorang bapak ijin,

“anak ku sama istri ku belum makan ini, aku ijin ambil 2 lagi ya bu…”

Hening…

URS – Manajemen Berkah Box
Donasi sila WA KLIK DISINI

Source KLIK DISINI

Belum Makan Nasi Berkah Box

Funnel Hastag di Instragram

Funnel Hastag di Instragram

Funnel Hastag di Instragram

by Dewa Eka Prayoga

Terjun di dunia Digital Marketing membuat Saya terus berkreasi dalam belajar ilmu baru.

Terhitung ada 30 keilmuan yang udah Saya pelajari dan masih terus dipelajari hingga saat ini. Salah satu diantara keillmuan tersebut adalah Instagram Marketing Organik.

Yap. Bisa dibilang, Saya pemain baru di Instagram.

Kenapa? Karena Saya gak mau beranjak ke media lain sebelum media sebelumnya khatam. Seperti yang Anda tahu, 5 tahun terakhir Saya lebih banyak aktif di Facebook ketimbang Instagram. Makanya sempat nulis dan berbagi pengalaman di buku Gara-Gara Facebook dan Main Facebook. Mungkin kalau IG udah khatam, bakal ada buku baru. Huahaha… Semua dibikin buku. 😂

Salah satu cara posting Instagram yang berubah saat gak ngerti dan mulai ngerti adalah permainan Hastag.

Ya. Hastag, alias Tagar.

Dulu kalau ngepost gambar di IG, ya asal post aja. Kagak ngerti apaan tuh Hastag. Dikirain cuma variasi doang aja. Sekalinya pake, ngarang bebas hastagnya tanpa makna. Hahaha… Polos banget gue! Wkwkwk 🤣

Funnel Hastag di Instragram

Logika Hastag tuh simpelnya gini…

Orang kan di Instagram nyari sesuatu tuh. Biasanya kalau mereka gak follow akun tertentu, mereka sering kepoin fitur Explore Search nya ketimbang scrolling timelinenya. Adapun scrolling timeline IG biasanya justru yang dikepoin bukan feednya, tapi storynya.

Lantas, apa guna Hastag?

Hastag membuat orang yang gak kenal, tapi kenal. Hastag pun membuat postingan yang gak ketemu, eh jadi ketemu.

Dan setelah Saya banyak literasi dan referensi serta ujicoba di postingan sendiri, memang penggunaan Hastag yang benar itu bisa meningkatkan jangkauan/reach/views hingga 40%. Ini gokil! Sadis emang… Mayan efektif.

Tentu, catatannya, hastag instagram yang dipake kudu bener. Catatan penting dari Saya:

#1. Gak terlalu besar jumlah postnya
#2. Harus relevan dengan postingannya
#3. Jangan terlalu sering diulang-ulang

Maka kalau disimpulkan, pertimbangannya:

#1. Kompetisinya
#2. Relevansinya
#3. Variasinya

Kebanyakan orang gak ngerti tentang Hastag, biasanya mereka pake Hastag yang tingkat kompetisinya tinggi, sementara akun dan postingan dia masih kecil. Ya bakal kelelep.

Maka disini kita perlu nyadar diri, jangan coba-coba main sama raksasa, kalau masih pemain baru dan akunnya masih kecil.

Gak cuma itu…

Kesalahan kita-kita yang gak ngerti main Hastag, biasanya kita pake hastag yang gak relevan sama isi postingannya.

Kontennya X, eh hastagnya Z. Ini boleh-boleh saja, selama masih nyambung dan similar. Pokoknya intinya kudu relevan, gak ngawur!

Pun ada juga…

Orang-orang yang cuma pake hastag itu-itu aja di setiap postingannya. Bahkan, semua postingannya cuma pake hastag itu doang. Entah karena terlalu yakin itu bagus, atau karena terlalu bloon karena gak ngerti. *EH 🤭

Berapa jumlah Hastag Instagram yang ideal?

Kalau saran Saya, minimal 9 hastag, maksimal 20 hastag.

Kalau 20 hastag, strateginya: 15 hastag gak terlalu kompetitif, 10 hastag mayan kompetitif, dan 5 hastag sangat kompetitif.

Darimana tahunya?

Risetlah. Gak ngasal.

Intinya, penggunaan hastag itu penting banget.

Ketika Saya gak pake Hastag di setiap postingan Saya, maka sama artinya Saya sedang siap rela kehilangan potensi reach besar yang datang dari hastag tersebut.

Supaya kebayang, cek gambar deh.

Funnel hastag tuh gini kurang lebih kaya gini:

Hastag Instagram yang Tepat —> Reach Makin Besar —> Profil Visit Makin Banyak —> Follower Makin Banyak —> Peminat Makin Tinggi —> Pembeli Makin Banyak —> Owner Makin Seneng 😁

Kebayang kan funnel hastag instagramnya?

Jadi, penting pake Hastag yang bener, supaya ownernya (Anda) makin seneng. Demikian.

Source: KLIK DISINI